Breaking News:

Berita Ekonomi Bisnis

Revolusi Digital Ubah Perilaku Transaksi  Agen Ekonomi

Saat ini dunia sudah bergerak ke arah digitalisasi. Dalam satu dekade terakhir revolusi digital telah mengubah secara drastis perilaku transaksi agen

Penulis: Paul Burin | Editor: Ferry Ndoen
Istimewa
ilustrasi 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Saat ini dunia sudah bergerak ke arah digitalisasi. Dalam satu dekade terakhir revolusi digital telah mengubah secara drastis perilaku transaksi agen ekonomi. Bahkan dengan adanya platform digital berdimensi global, tidak ada lagi batasan-batasan yuridiksi (borderless). 

Demikian rilis yang diterima POS-KUPANG.COM dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT, Rabu, 13 Oktober 2021.
Dalam rilis itu disebutkan bahwa siapa saja bisa berbelanja produk-produk negara lain dengan mudah, bahkan bisa juga berwisata ke Eiffel-Paris, Pyramid-Mesir secara virtual.

Begitu pula sebaliknya, orang luar negeri dapat berbelanja produk-produk dalam negeri  dan dapat pula melihat keindahan wisata Indonesia melalui aplikasi digital. Digitalisasi semakin cepat dan tumbuh secara eksponensial didorong oleh pandemi Covid-19 yang menyebabkan pembatasan mobilitas manusia.

Salah satu keunggulan digitalisasi adalah efisiensi. Inovasi digital mengubah interaksi sosial ke arah demokratisasi ekonomi, meningkatkan efisiensi karena tambahan kemampuan agen ekonomi dalam mengakses dan memanfaatkan informasi.

Interkonektivitas agen ekonomi memotong rantai distribusi barang dan jasa, mendorong sebaran informasi secara lebih merata dan secara keseluruhan mengefisienkan aktivitas ekonomi.

Meskipun demikian, pesatnya perubahan perilaku masyarakat dan dunia usaha ke arah digital, menuntut otoritas kebijakan untuk ber-inovasi merespon berbagai perubahan yang terjadi. Jika dianalogikan bahwa teknologi digital menyebabkan mobil dapat melaju dengan super cepat, maka diperlukan perubahan pada kualitas jaringan jalan raya, rambu-rambu lalu lintas, mengurangi simpul-simpul kemacetan dan mengurangi risiko bahaya dan sebagainya.

 Oleh sebab itu, Bank Indonesia yang salah satu tugasnya merupakan otoritas sistem pembayaran, juga harus memastikan bahwa aktivitas perekonomian digital dapat difasilitasi dengan metode pembayaran digital yang cepat, aman, mudah, murah dan handal. Selain itu sistem pembayaran juga dipastikan dapat saling terhubung (interconnected) dan saling dapat dioperasikan (interoperable).

Bank Indonesia (BI) terus mendorong akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional dan sebagai bentuk konkret dalam menjalankan mandat menjaga kelancaran sistem pembayaran di Indonesia, BI telah mengeluarkan Blue Print Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025. 

Beberapa inisiatif implementasi dari BSPI 2025, yakni pengembangan infrastruktur sistem pembayaran ritel seketika (real time) dan tersedia sepanjang waktu (24/7), BI FAST, penyusunan Standar Open Application Programming Interfaces (Open API) Pembayaran bagi para pelaku industry, GPN dan QRIS.

Bagaimana perkembangan digitalisasi ekonomi di NTT? NTT juga turut mengejar ketinggalan dari daerah lain yang lebih maju dan digital di Indonesia. Secara transaksi, pada triwulan II 2021 jumlah transaksi e-Commerce di NTT mencapai Rp 214,74 juta, atau mengalami peningkatan 87,45% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan transaksi periode yang sama tahun sebelumnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved