Breaking News:

Berita Kota Kupang

Keren, Kelompok Petani Milenial Jaga Kestabilan Pangan dengan Panen Perdana

memanfaatkan lahan sekecil apapun untuk bisa seproduktif mungkin. Tak hanya bertani semata, kalian harus jadi Agropreneur

Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
Panen hasil tomat hasil olahan para penyuluh di BPP Pandawai 

"Selain itu mereka harus bisa memanfaatkan lahan sekecil apapun untuk bisa seproduktif mungkin. Tak hanya bertani semata, kalian harus jadi Agropreneur," ujar Dedi.

Baca juga: Cakupan Vaksinasi di Kota Kupang Dosis II 46,73 Persen

Salah satu kelompok petani milenial di Kabupaten Sumba Timur, NTT, bernama Kawangu Banna telah terbukti berperan serta dalam menjaga kestabilan pangan.

Kelompok tani yang berusaha di bidang hortikultura ini mempunyai anggota sebanyak 23 orang petani muda dengan berbagai latar belakang pendidikan itu telah melaksanakan usaha pertanian hortikultura di tanah seluas 0,4 hektare.

Komoditas yang dibudidayakan antara lain kangkung, terong, tomat, cabai, pare hingga bawang.

Baru-baru ini kelompok tani yang mendapat bantuan modal dari program PWMP Kementan bekerja sama dengan komisi IV DPR RI ini berhasil melakukan panen perdana tomat.

Ketua kelompok, Andry Djanggandewa, mengatakan bahwa Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum menanam tomat mulai dari suhu, tanah, hingga pH Tanah.

Dalam mengembangkan budidaya tomatnya, Andry dan kelompok taninya menjalin kerjasama degan PT. Ewindo (Panah Merah) terkait benih cabai.

“Panen tomat dilakukan sesuai dengan tujuan pemasarannya sehingga perlu diperhitungkan lama perjalanan sampai ke tempat tujuan. Sebaiknya tomat berada di pasaran pada saat masak penuh, tetapi tidak boleh terlalu masak karena akan busuk. Pada saat masak penuh itulah tomat memperlihatkan penampilannya yang terbaik," katanya.

Baca juga: Begini Info Cakupan Vaksinasi di Kota Kupang, 8 Oktober 2021

"Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam beberapa jam, panen sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih berwarna kekuning-kuningan,” sambungnya.

Meskipun bukan berasal dari lulusan sarjana pertanian, Andry tidak sungkan meminta bantuan dari BPP di kecamatan Pandawai sebagai Pembina kelompok taninya.

Usaha yang dilakukan BPP terhadap kelompok tani tersebut di antaranya mulai dari membantu pembuatan pupuk organik, pemasaran, hingga pengolahan hasil. Salah satu produk olahan hasil tomat yang sudah dilatih oleh para penyuluh di BPP Pandawai adalah sambal tomat yang bisa dipasarkan di sekitar Sumba Timur.(*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved