Berita Sikka

Petrus Sedih Menyandang Status Gangguan Jiwa, Sembuh Setelah 13 Tahun Dipasung

Petrus Sedih Menyandang Status Gangguan Jiwa, Sembuh Setelah 13 Tahun Dipasung

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Seminari St. Kamilus-Maumere
Rektor Seminari St. Kamilus, Romo Andi, MI, mengunjungi Germanus, OGDJ di Kecamatan Bola, sebelah selatan, Kota Maumere, Pulau Flores, Kamis (19/12/2019). 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE -Petrus Silvester, pria berusia 40 tahun yang sering dipanggil Petu tampak bahagia dan senang mengisahkan perjuangan saat menyandang status orang dengan gangguan jiwa ( ODGJ).

Pria asal Desa Tebuk, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka tampak rasa malu dan minder menceritakan masa lalunya. Selama 13 tahun ia dipasung keluarga di rumahnya karena berstatus ODGJ.

Ia terpaksa dipasung karena kuatir membuat ulah di kampungnya. Kaki dan tangannya diikat menggunakan kayu hingga membuat kakinya sampai kecil karena pasungan.

"Waktu Pater Andi dari Biara Kamilus ke rumah saya di Desa Tebuk mereka buka ikatan. Kaki saya kecil sekali. Saya 13 tahun dipasung karena berstatus ODGJ. Saya lalu dirawat Pater Andi di rumah yang dibangun Biara Kamilus. Selama satu bulan perawatan saya sembuh," ujar Petu saat ditemui di Seminari Tinggi St.Kamilus Maumere di Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka beberapa waktu lalu.

Menurut Petu, ketika tiba di biara, awalnya dikasih obat tetapi dirinya tidak mau. Lalu ibunya mencampur obat tersebut dengan makanan. Hal itu dilakukan hingga dirinya sembuh.

"Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Bapak sudah meninggal dan saya tinggal dengan mama dan dua adik. Tetapi sekarang dua adik saya sudah menikah. Jadi saya tinggal dengan mama," jelasnya.

"13 tahun dipasung akhirnya sekarang saya sembuh. Puji Tuhan saya sudah berbaur dengan warga dan keluarga. Awalnya, mereka kuatir tapi sekarang mereka sudah terima saya. Saya sudah bergaul dengan mereka. Awalnya, minder tapi sekarang mereka tidak takut karena saya sudah sehat," kata Petu yang kini bekerja di Biara Kamilus Nita.

Ia mengatakan, setiap pagi ia dari rumah ke biara guna bekerja lalu sore kembali ke rumah. Aktivitasnya dilakukan dengan senang hati lantaran apa yang membuat gelisah telah terobati.

Lain lagi kisah Maria Kristina Daro, warga Jalan Wairklau, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Kini dia sudah bahagia dan beraktivitas sebagai pemasak di tempat pesta dan membantu tata rias kalau dipanggil orang.

Perjuangan untuk menghidup dua anaknya ia tunjuk saat berpisah dengan sang suaminya hingga membuat sakit dan dicap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Sikka. Ia sembuh berkat doa dan obat dari Pater Biara Kamilus Maumere yang merawatnya.

Kepada Pos Kupang, Jumat (24/9) Maria menjelaskan, ia sakit lantaran pikiran karena masalah keluarga. Suaminya memilih berpisah menjelang menerima sakramen perkawinan.

"Tahun 2016 saya dan suami pisah. Saya dan suami awalnya di Kalimantan Timur. Mungkin karena pikiran saya sakit tahun 2017.Saya harus berjuang sembuh demi dua anak saya. Satunya sudah SMA dan satunya SMP," papar Maria.

Ia mengatakan, sejak ia sakit keluarga memasungnya di dalam kamar selama satu bulan. Lalu tantanya menginformasikan kepada Frater dari Biara Kamilus dan mereka langsung datang ke rumah.

"Pater Biara Kamilus kasih obat dan mereka doa buat saya. Saya selama proses penyembuhan tetap dipasung. Sampai saya sembuh satu bulan kemudian pasung saya dibuka," paparnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved