Breaking News:

Di Nautasik Kabupaten Rote Ndao

PKM-FKH Undana Pemanfaatan Bahan Lokal Sebagai Pakan Ternak Dan Bahan Pangan Bernutrisi

PKM ini merupakan wadah diseminasi beberapa hasil penelitian berlandaskan Renstra dan Renstra Bisnis Undana 2020-2024 sesuai bidang kepakaran tim peng

Penulis: Sipri Seko | Editor: Sipri Seko
istimewa
Tim FKH Undana pose bersama masyarakat di Rote Ndao. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) kali ini merupakan serangkaian tahapan kegiatan transfer ilmu dan teknologi kepada masyarakat Dusun Nautasik, Desa Suelain, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Kegiatan ini  bersumber pada hibah dana DIPA FKH Undana tahun 2021.

Kegiatan diawali dengan adanya pengembangan legal drafting kerjasama antara Undana dan Pemerintah  Kabupaten Rote Ndao melalui penandatangan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Dekan FKH Undana dan Bupati Rote Ndao pada Juni 2021 bertempat di Aula Kantor Bupati Kab. Rote Ndao. Dilanjutkan pada bulan September 2021 mengingat kondisi pandemi dengan adanya instruksi terkait PPKM yang membuat pelaksanaan kegiatan PKM tertunda. 

Kegiatan PKM ini merupakan wadah diseminasi beberapa hasil penelitian berlandaskan Renstra dan Renstra Bisnis Undana 2020-2024 sesuai bidang kepakaran tim pengusul yang merupakan kolaborasi bidang keilmuan, yaitu kedokteran hewan dan peternakan yang terdiri dari Prof. Ir. Frans Umbu Datta, MAppSc, drh. Cynthia Dewi Gaina, MTropVSc, drh. Filphin Adolfin Amalo, M.Si dan drh. Inggrid T.Maha, M.Si.

Kegiatan PKM kali ini tidak hanya berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao dan juga alumni FKH Undana yang telah kembali mengabdi di Kab. Rote Ndao, namun juga mendatangkan Instruktur Pangan Lokal Provinsi NTT.

Pelaksaan kegiatan PKM tahap ke-2 tahun 2021 diawali dengan pembukaan oleh Kadis Peternakan yang diwakili oleh Kabid Sarana Prasarana, Ibu Marlin pada hari Kamis, 23 September 2021, dan dihadiri oleh Kepala Desa Suelain, Jonathan Dillak serta Koordinator Wilayah Pelayanan Kesehatan Hewan, Sammy Muskanan.

Dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan amoniase dan pelatihan pembuatan pangan lokal oleh ke-2 instruktur pangan lokal provinsi NTT, Ibu Christin Yonanita Mboeik dan Ibu Novia Fauziah.

Adapun tahapan kegiatan PKM yang telah dilakukan sebelumnya berupa penyuluhan dan simulasi pemanfaatan jerami padi melalui teknologi amoniase untuk mengatasi kekuarangan pakan berkualitas pada musim kemarau dan juga penyuluhan tentang demam babi afrika (African Swine Fever atau ASF) yang juga meyebabkan kematian ternak babi di kab Rote Ndao.  Pada kegiatan PKM kali ini, kegiatan yang dilakukan adalah pendampingan pembuatan amoniase jerami padi menjadi pakan ternak berkualitas dan pemanfaatan limbah saboak serta bahan lokal disekitar masyarakat desa yang selama ini dibuang atau diberikan pada ternak menjadi bahan pangan lokal bernutrisi tinggi. 

Tahapan pendampingan pembuatan amoniase bagi peternak dusun merupakan bagian penting dalam rangkaian kegiatan PKM ini dengan tujuan memperdalam ilmu yang telah diperoleh sebelumya tentang manfaat jerami padi yang jumlahnya melimpah dan mudah di dapatkan di desa Suelain, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya pengetahuan tentang manfaat dari jerami padi sehingga jerami padi hanya dibiarkan terbuang atau dibakar. 

Amoniase jerami bukanlah hal baru dalam teknologi pakan ternak berkualitas. Amoniase jerami merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas jerami sebagai pakan sapi dengan penambahan urea 4-6% dari berat kering jerami. Bahan kimia yang terdapat dalam urea mampu memecah lignin dan silikat dalam jerami padi sehingga selulosa dan hemiselulosanya dapat dibebaskan dan diserap oleh saluran pencernaan sapi.

Di samping itu, urea juga berfungsi mensuplai unsur nitrogen (NPN) sebagai bahan baku sintesis protein di dalam tubuh. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikana adalah bau yang dihasilkan kurang disukai sapi sehingga hasil amoniase jerami ini perlu diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum diberikan pada ternak. 

Selain melatih peternak membuat pakan berkualitas bagi ternak, ke-2 instruktur pangan lokal provinsi juga melatih para ibu-ibu dusun Nautasik untuk mengolah limbah saboak (siwalan atau lontar) dan pisang yang selama ini menjadi pakan ternak untuk dijadikan pangan lokal bernutrisi bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Selama ini, limbah saboak dan limbah pohon pisang hanya digunakan sebagai pakan ternak, namun pada pelatihan PKM ini, limbah diolah menjadi pangan lokal berkualitas.

Adapun nutrisi yang terkandung di dalam saboak yaitu, serat, karbohidrat, protein, kalsium, kalium, fosfor, seng, hingga vitamin, A, B, dan C. Berdasarkan penelitian Idayati dkk (2014), total karotenoid pada saboak adalah 8324 μg/100 g, dimana nilai ini lebih tinggi dibandingkan beberapa sumber-sumber karotenoid seperti wortel dan labu. Karotenoid adalah antioksidan yang dapat melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas pemicu kanker. Selain itu, karotenoid juga dapat diubah menjadi vitamin esensial. 

Peningkatan pengetahuan tentang pemanfaatan limbah jerami menjadi pakan ternak berkualitas dan pengolahan bahan pangan lokal dari sumber daya alam disekitar rumah yang selama ini sering dibuang dan dijadikan pakan ternak merupakan salah satu luaran kegiatan PKM ini. Hal lain yang diharapkan adalah jika hal ini ditekuni, maka ilmu ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi rumah tangga. Dengan demikian, transfer ilmu ini dapat terus berlanjut dengan adanya pendampingan berkala dari FKH Undana, Pemerintah Daerah dan respon balik dari masyarakat penerima manfaat PKM. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved