Breaking News:

Berita Flores Timur

Benny Djawan Bantah Sebarkan Rekaman Soal Oknum KRBF yang Disebut Minta Proyek

Benny Djawan Bantah Sebarkan Rekaman Soal Oknum KRBF yang Disebut Minta Proyek

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Pentolan KRBF, Lambertus Beny Djawan 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA- Salah satu pentolan ormas Koalisi Masyarakat Bersatu Flores Timur ( KRBF), Lambertus Beny Djawan membantah menyebarkan rekaman percakapan antara dirinya dan YK yang beberapa waktu lalu viral di media sosial.

Beredarnya rekaman percakapan yang mengungkap dugaan minta-minta proyek oleh oknum KRBF itu berujung pada dilaporkannya Beny Djawan dan YK oleh Ruth Wungubelen dan Paulus Tadon Kedang yang juga anggota KRBF ke Polres Flotim terkait dugaan pencemaran nama baik.

"Memang saat ditelepon YK, saya merekam. Motivasinya, untuk memproteksi saya, karena yang menelpon adalah pendukung pemerintahan. Sebelumnya saya ijin untuk rekam. Tapi saya tidak sebarkan. Saya kaget karena rekaman itu viral di medsos. Dan saya dapat informasi itu dari penulis awal di grup Facebook Suara Flotim," ujarnya kepada wartawan di Mapolres Flotim, Kamis 23 September 2021.

Ia mengaku rekaman itu diberikannya ke empat orang kenalan dengan tujuan diskusi terkait oknum KRBF yang diinformasikan meminta-minta proyek ke keluarga bupati Flotim.

"Saya memang kasih, tapi saya minta jangan disebarkan. Karena saya di Jakarta, rencananya saya ke Flotim dan mau klarifikasi secara internal di KRBF. Tapi tiba-tiba sudah tersebar dan bukan saya penyebarnya. Saya sudah tau orang yang menyebarkan dan sudah ada pengakuan dari yang bersangkutan. Karena sudah dilaporkan, maka kita tunggu dulu hasilnya," katanya.

"Sebelum ke Flotim, saya berkomunikasi juga dengan pengurus KRBF untuk saya minta klarifikasi, tapi saya masih sibuk. Tiba-tiba terlanjur viralk di medsos. Lalu, Saya dituduh seolah-olah saya yang sebarkan. Saya tidak salahkan tapi perlu klarifikasi juga ke saya. Untuk membuktikan, saya mendorong proses hukum berjalan. Bukan untuk saya, tapi untuk KRBF. Saatnya, bukan soal siapa yang salah, siapa yang benar, tapi eksistensi KRBF," sambungnya.

Ada Kekerasan Verbal

Meski belum mendapat panggilan dari Polres Flotim, namun, menurut dia, kedatangannya ke Polres guna menunjukan bahwa ia taat hukum dan siap bertanggungjawab.

"Saya memang belum dipanggil , tapi saya inisiatif datang sendiri ke Polres. Saya harus menjemput bola, karena domisili saya di Jakarta. Jangan sampai ada penggiringan opini, bahwa saya menghindar," jelasnya.

Selain dilaporkan ke polisi, kata dia, ia juga mengaku diserang secara verbal di medsos. Serangan secara verbal, menurut dia, memberi pendidikan yang tidak baik, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk publik.

"Memang tidak menyebut nama tapi serangan verbal seperti mata juling, badan kurus, baru jadi papalele bicara seperti pakar ekonomi, sampai meragukan saya sebagai kepala suku. Itu yang saya kecewa. Kebelen lewo (pembesar kampung/kepala suku), itu keturunan, bukan dipilih. Memang tidak sebut nama saya, tapi disitu disebutkan juga seolah-olah saya mencuri mesin lilin. Sementara yang punya perusahaan lilin satu-satunya di Flotim adalah Beny Djawan. Itu nampak jelas ditujukan ke saya. Tapi saya tidak respon, karena itu hanya emosional," ungkapnya.

Ia menambahkan, tidak dipungkiri kalau KRBF punya peran besar mempengaruhi kebijakan pemerintah, seperti batalnya pembangunan gedung DPRD dan beberapa kasus hukum. Karena itu, ia berharap masyarakat Flotim, tidak boleh meninggalkan KRBF.

"KRBF harus diawasi, baik oleh lembaga eksternal maupun internal. Jika ada prilaku oknum yang menyimpang, harus ditinggalkan. Artinya, kalau memang kasus hukum ini berjalan, sportif tinggalkan jabatan demi penegakan hukum. Agar citra KRBD tidak buruk di mata masyarakat. Ada AD/ART KRBF, jangan tunggu kasus ini inkrah, tapi mundur saja dari sekarang," pungkasnya. (*)

Baca Berita Flores Timur Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved