Breaking News:

Berita Sikka

Re-imagine Bikon Blewut, Wajah Flores dalam Koleksi dan Arsip Museum Bikon Blewut

Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik ( STFK) Ledalero menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Re-Imagine Bikon Blewut

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
Foto Dokumen Kahe
Komunitas KAHE bekerja sama dengan Museum Bikon Blewut dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STFK) Ledalero menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB). Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari rangkaian Docking Program Biennale Jogja XVI Equator #6, sebuah pameran seni rupa yang telah dikenal luas baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 

Periode pertama dimotori oleh para misionaris asing yang turut memberi warna pada perkembangan teori-teori kebudayaan, mulai dari Dr. Th. Verhoeven, SVD; Paul Arndt, SVD; W. Koppers, SVD; M. Guisinde, SVD; W. van Bekum, SVD; dan P. Mommersteeg, SVD.

Beberapa dari antara mereka adalah murid-murid awal Wilhem Schmidt (1868-1954), seorang pencetus teori difusi kebudayaan dengan salah satu publikasi terkenal berjudul Der Usprung Der Gottesdee.

Tahapan pertama ini berlangsung pada 1965 di Todabelu, Mataloko, Flores. Pada periode berikutnya mulai terlibat beberapa misionaris lokal, di antaranya Darius Nggawa, SVD; Piet Petu, SVD; Frans Nurak, SVD; dan Rokus Due Awe SVD.

Pada perkembangannya, Piet Petu, SVD kemu-dian menjadi salah satu tokoh penting dalam pendirian Museum Bikon Blewut.

Sebagai sebuah museum yang mendekati standar museum modern, Bikon Blewut baru mulai beroperasi dan dikenal sebagai museum berkat direksi dan kurasi Piet Petu, SVD, sejak tahun 1983 di Ledalero, Maumere, Flores.

Bikon Blewut mengoleksi artefak-artefak yang merepresentasikan kehidupan dan kebudayaan Flores dalam dialektika sejarah.

Pengetahuan yang tercermin dan beririsan dengan koleksi-koleksi museum Bikon Blewut perlu terus menerus diberikan konteks agar berdaya sebagai sumber informasi yang hidup.

Namun, perlu juga ditekankan bahwa museum Bikon Blewut sendiri adalah sebuah artefak.

Sejarah kehadirannya beririsan langsung dengan sejarah misi dan modernisasi yang dimotori oleh Gereja, bias-biasnya, tegangan-tegangan di sekitar kolonialisme dan evangelisasi, pemberadaban dan alienasi budaya, pemberdayaan dan kapitalisasi pengetahuan yang berlangsung di sekitar itu.

Dengan R-IBB ini, Komunitas KAHE berusaha menghadirkan wacana seni budaya ke ruang publik agar dengan cara demikian publik menjadi semakin akrab dengan identitas kebudayaannya yang secara historis merupakan hasil persilangan dari berbagai konteks.

R-IBB juga diharapkan mampu menstimulasi metode pengelolaan Museum Bikon Blewut agar semakin relevan dengan masyarakat. (*)

Baca Berita Sikka Lainnya

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved