Breaking News:

Berita Manggarai

Kajian YMP Mengenai Kasus Persetubuhan Ayah Terhadap Anak Kandung di Karot Manggarai

Kajian YMP Mengenai Kasus Persetubuhan Ayah Terhadap Anak Kandung di Karot Manggarai

Penulis: Robert Ropo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Direktur Yayasan Mariamoe Peduli, Albina Redemta Umen, S.Psi 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM, RUTENG - Kasus persetubuhan terhadap korban AB (14) anak dibawah umur oleh ayah kandungnya berinsial FJ (40) seorang sopir, beralamat Karot, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai dimana perbuatan bejat FJ dengan menyetubuhi anak kandungnya AB ini dilakukan berulang kali sejak anaknya masih diduduk dibangku SMP kelas 1 sampai kini AB sudah duduk di kelas 3 SMP.

Terhadap kasus ini, Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Ruteng sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang selama ini bekerja dalam banyak isu sosial, salah satunya isu anak sangat menyayangkan kejadian itu.

"Kami sebagai lembaga akan memberi respon pada dua hal yaitu pertama, pada sisi penangaan korban secara sosial termasuk situasi kekerasan pada anak berdasarkan studi rutin yang kami lakukan. Kedua pada kajian psikologis terhadap korban,"ungkap Direktur Yayasan Mariamoe Peduli, Albina Redemta Umen, S.Psi, dalam pernyataan pers yang diterima POS-KUPANG.COM, Senin 13 September 2021.

Albina menjelaskan, pertama terkait Kajian Psiko Sosial. Kejadian ini menurutnya adalah fenomena gunung es. Data YMP memperlihatkan bahwa trend kekerasan pada anak dalam 5 tahun terakhir cenderung meningkat. Peningkatan yang signifikan terjadi dalam dua tahun terakhir, selama masa pandemi.

Baca juga: Setubuhi Anak Kandung Berulang Kali, Seorang Sopir di Manggarai Diciduk Unit Jatanras

"Data kunjungan kepada lembaga kami yang terkait dengan anak meningkat 70 % dibandingkan bulan yang sama 3 tahun lalu. Kekerasan yang dialami anak dari kekerasan non verbal, verbal, penelantaran, perebutan hak asuh anak, keretakan keluarga, kekerasan fisik, kekerasan seksual, pelecehan, penolakan, incest, kekerasan oleh guru, kekerasan oleh orang tua tiri, kekerasan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain,"jelas Albina.

"Artinya ada soal yang serius dengan situasi sosial kita, tetapi berjalan dalam diam karena masih dianggap sebagai urusan privat/domestic. Banyak kasus yang penyelesaiannya dalam diam,"ungkapnya.

Albina juga mengatakan, YMP sendiri dalam banyak pernyataan sudah memberikan catatan serius soal ini, yakni pertama, kasus kekerasan pada anak/kasus bunuh diri pada anak, memperlihatkan suasana psikologis masyarakat yang sedang 'bopeng', dan butuh kerja ekstra mengurai soal ini.

"Studi kami memperlihatkan ada ceruk yang sangat dalam yang mengambarkan lemahnya pengetahuan pola pengasuhan pada masyarakat kita. Clusternya ada di mana-mana. Rumah, sekolah, kantor, lingkungan bermain,"ungkapnya.

Baca juga: 8 Fakta Mengejutkan Ayah Setubuhi Anak Kandung di TTS Nusa Tenggara Timur, Bikin Syok, Apa Saja?

Kedua, pendekatan terhadap masalah anak tidak akan selesai dengan selebrasi perayaan yang sifatnya leapservice, memberi hadiah atau apapun tanpa mengetahui konstruksi psikologi dan sosialnya secara rinci.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved