Breaking News:

Berita Pemprov NTT

Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Sebut Badai La Nina di NTT Terjadi Lemah

Kondisi yang mengalami peningkatan atau lebih, justru terjadi pada curah hujan yang akan turun diatas normal.

Editor: Rosalina Woso
Kepala Stasiun Klimatologi Kupang Sebut Badai La Nina di NTT Terjadi Lemah
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Capture foto saat pemaparan materi bagian prakiran iklim, Stasiun Klimatologi Kupang,  Ni Luh Chevi Rahayu, STr

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kepala Stasiun Klimatologi Kupang, Rahmattulloh Adji, SP, mengatakan badai La Nina yang terjadi di NTT pada peralihan musim kemarau ke musim hujan, akan terjadi dalam kondisi lemah.

Dalam pemaparan materi secara online, Kamis 2 September 2021, Adji menyebut badai la Nina terdiri dari tiga yakni badai la Nina lemah, moderat hingga kuat.

Dia meminta masyarakat untuk tidak panik mendengar kata la Nina. Ia meminta agar semua masyarakat bisa menjaga situasi agar tidak terprovokasi dengan informasi liar.

Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) diperiakan badai la Nina akan terjadi dalam keadaan lemah. Kondisi yang mengalami peningkatan atau lebih, justru terjadi pada curah hujan yang akan turun diatas normal.

Sementara itu, bagian prakiran iklim, Stasiun Klimatologi Kupang,  Ni Luh Chevi Rahayu, STr, menambahkan, prakiran dari beberapa lembaga dunia mengatakan hingga akhir tahun kondisi NO masih netral sehingga tidak terjadi apapun.

Namun, ada tiga institusi luar negeri yang memperikarakan NO akan berkembang dan berpotensi menjadi La Nina. Sesuai grafik, la Nina yang diprediksikan ini akan terjadi dalam keadaan lemah.

Baca juga: Warga Kota Kupang Waspada! Masih 198 Pasien Dirawat,12 Pasien Diisolasi

Untuk memastikan kejelasan kapan terjadinya badai la Nina dan perkembangan ENZO, BMKG akan terus melakukan update informasi untuk disampaikan ke masyarakat.

Ketika dibandingkan dengan kondisi musim hujan pada 2016/2017, 2017/2018 dan pada tahun kemarin, BMKG ingin melihat tingkat curah hujan dibarengi badai la Nina. Perbandingan itu juga untuk melihat dampak ketika adanya badai la Nina dimusim hujan itu. 

"Saya coba bandingkan seberapa signifikan berapa curah hujan saat musim hujan dibarengi dengan kondisi la Nina," katanya.

Hasil perbandingan curah hujan, ternyata pada musim hujan 2016/2017 naik hanya 7 persen. Sementara di tahun 2017/2018 naik menjadi 10 persen. Dan periode 2020/2021 kondisi curah hujan naik 24 terhadap kondisi normal.

Dia menjelaskan, pada musim hujan 2020/2021 memang curah hujan mengalami kenaikan signifikan karena adanya pengaruh NGO dan gelombang Rosi sehingga curah hujan mengalami kenaikan.

Dia mengatakan, pada periode Desember 2021 dan januari 2022 kondisi angin akan mengalami pertemuan awan-awan konfektif karena arah angin akan bergerak ke selatan ekuator dan pada daerah selatan berpotensi hujan lebih banyak. (*)

Berita Pemprov NTT Terkini

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved