Breaking News:

Berita Flores Timur

Diduga Ada Intervensi, Kasus Talud Bubuatagamu dan Lamakera Endap di Irda Flotim

Anggapan saya, Irda sengaja endapkan atau tanpa kinerja. Karena Irda sudah turun beberapa bulan lalu melakukan audit di dua lokasi proyek itu

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/AMARĀ OLA KEDA
Aktivis KRBF, Bachtiar Lamawuran 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM/AMAR OLA KEDA)

POS-KUPANG.COM,LARANTUKA- Kasus dugaan korupsi proyek pengerjaan talud pengaman pantai di Desa Bubu Atagamu, Kecamatan Solor Selatan dan talud pengaman pantai di Lamakera Desa Watobuku, Solor Timur hingga kini masih mengendap di tangan inspektorat daerah (Irda) Flores Timur (Flotim).

Padahal, permintaan audit kerugian negara oleh penyidik Polres Flotim ke inspektorat daerah sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu.

Bahkan, DPRD Flores Timur juga sudah mengalokasikan penambahan anggaran Rp.100 juta untuk menjawab keluhan kekurangan anggaran dalam menangani kasus tersebut. 

Lambannya proses audit oleh Inspektorat Daerah itu memantik reaksi keras dari aktivis Koalisi Rakyat Bersatu Flores Timur (KRBF), Bachtiar Lamawuran. Bachtiar menduga, kasus tersebut sengaja diendapkan karena adanya intervensi pihak tertentu. 

"Anggapan saya, Irda sengaja endapkan atau tanpa kinerja. Karena Irda sudah turun beberapa bulan lalu melakukan audit di dua lokasi proyek itu. Saya menduga ada intervensi," ujarnya kepada wartawan, 12 Agustus 2021.

Menurut dia, selain sengaja diendapkan Irda, ia juga menilai adanya kelemahan dari kepolisian Flores Timur dalam proses penanganan kasus itu. 

Baca juga: Flores Timur Mulai Canangkan Vaksin Moderna untuk Nakes

"Ada kelemahan dari penyidik polisi yang tidak serius untuk menjemput laporan hasil pemeriksaan (LHP). Kasus ini sangat berbeda dengan kasus SPAM Ile Boleng, yang saat itu polisi dua kali turun ke Irda. Dan, itu tidak dilakukan untuk dua kasus ini," katanya. 

"KRBF sudah ke Irda, mereka beralasan kekurangan anggaran. Keluhan itu juga sudah dijawab DPRD dengan mengalokasikan Rp.100 juta, sehingga seharusnya tidak ada alasan lagi untuk memperlambat proses pemeriksaan," tambahnya. 

Sebelumnya, Kepala Inspektorat Daerah Flotim, Anton Lebi Raya yang dikonfirmasi wartawan, Senin 2 Agustus 2021 terkait hasil audit dua kasus tersebut, tak banyak berkomentar.

"Masih menunggu proses di tingkat teknis," ujarnya singkat.

Ia pun memilih bungkam saat dicecar beberapa pertanyaan lain terkait kasus tersebut.

Untuk diketahui, kasus ini dilaporkan oleh Koalisi Rakyat Bersatu Flores Timur ( KRBF) ke Polres Flotim beberapa waktu lalu.

Dua kasus dugaan korupsi yang dilaporkan yakni, proyek pengerjaan talud pengamanan pantai yang dikerjakan CV Gelekat Mandiri di Desa Bubu Atagamu, Kecamatan Solor Selatan, tahun anggaran 2018 senilai Rp. 1.153.115.000 miliar dan kasus dugaan korupsi talud pengaman pantai Lamakera, desa Watobuku, Kecamatan Solor Timur tahun anggaran 2018 sebesar Rp 3.718.888.000 miliar, yang dikerjakan PT Dirgahayu. (*)

Berita Flores Timur Terkini

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved