Breaking News:

Salam Pos Kupang

Mencintai NKRI di Atas Segala-galanya

KITA merayakan HUT ke-76 RI dalam deraan pandemi Covid-19 yang belum juga reda. Dalam kegalauan hati dan perasaan tak menentu

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

POS-KUPANG.COM- KITA merayakan HUT ke-76 RI dalam deraan pandemi Covid-19 yang belum juga reda. Dalam kegalauan hati dan perasaan tak menentu kita merayakan hari yang bersejarah ini tetap dengan berbalut masker. Semoga suara kita tak hilang meneriakkan gegap gempita Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Tanah Air.

Sejak pagi hari kita menyaksikan seluruh anak negeri baik di Indonesia maupun di belahan dunia mana saja mengikuti detik-detik peringatan HUT RI ini. Semua orang punya cara sendiri-sendiri.

Institusi pemerintahan, misalnya dari pusat sampai desa-desa melakukan apel pengibaran bendara di pagi hari. Begitu juga sore hari apel dilakukan untuk menurunkan Merah Putih dari kibarannya..

Di sejumlah rumah ibadat dilangsungkan kebaktian. Doa khusus untuk negeri ini. Yang lain merayakan di rumah masing-masing. Kita memang tak sebebas tahun-tahun sebelumnya karena tetap menjaga protokol kesehatan. Kita memang dalam sebuah situasi yang penuh dengan keprihatinan.

Baca juga: Fernando Hanya Besar Mulut, Goliat Tabuni Malah Pimpin KKB Papua Beraksi Sebelum HUT Kemerdekaan RI

Tetapi, untuk negeri ini, untuk kelangsungannya kita tak boleh lengah. Kita harus menjaga dan mengawalnya.

Sebagai anak negeri ini kita patut melestarikan agar tak mudah dirongrong oleh pihak lain. Karena itu di mana-mana selalu didengungkan paham negara kesatuan. Semacam indoktrinisasi. Pancasila menjadi satu-satunya dasar, fondasi, pegangan dan arah perjalanan bangsa ke depan.

Di mana-mana sejumlah pilar kebangsaan juga selalu didengung-dengungkan. Anggota DPR RI dan DPD RI ketika melakukan reses wajib melakukan sosialisasi kepada konstituen atau kepada masyarakat yang ditemui.

Mereka menyebutkan pilar-pilar kebangsaan itu, yakni Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Menjadi harga mati. Mengapa, saat ini kita mendapatkan begitu banyak tantangan baik dari dalam maupun dari luar yang menginginkan perubahan pilar-pilar kebangsaan itu?

Baca juga: Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-76 di NTT,  Gubernur Viktor Laiskodat Kenakan Pakaian Adat Dawan

Kita melihat bahwa satu di antara karateristik NKRI sebagai negara-bangsa adalah kebesaran, keluasan dan kemajemukan.

Data Badan Pusat Stastistik menyebutkan terdapat 1.128 suku bangsa dan bahasa, ragam agama dan budaya pada 17 ribu lebih pulau.

Oleh karena itu perlu sebuah konsep yang kuat untuk dapat menghandel keberagaman ini jika kita tak menginginkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Isu separatisme atau pemisahan diri dari NKRI tengah dilakukan di sejumlah wilayah. Hal ini yang patut kita jaga bersama agar tak ada lagi wilayah yang lepas dari Nusantara.

Pilar-pilar kebangsaan itu sebagaimana makna yang terkandung di dalamnya, yakni harus menjadi tiang penyangga (sokoguru) agar dapat memberi rasa aman. damai, tenteram dan sentosa. Mungkin bahasa ini terlampau tinggi jika kita membawanya dalam perspektif masyarakat akar rumput.

Mungkin dengan bahasa yang lebih sederhana--dalam konteks menjaga NKRI, yakni toleransi, saling menghargai, saling membantu dan saling menyayangi. Isu-isu SARA seyogyanya diredam. Sebaliknya, kita wajib membangun sikap-sikap yang membawa kesejukan di antara anak bangsa.

Kita memang wajib menjaga NKRI bukan sepanjang hidup kita, tetapi hingga seribu tahun bahkan kekal abadi. Karena itu generasi penerus bangsa perlu kita tanamkan sikap mencintai tanai air di atas segala-galanya. *

Baca Salam Pos Kupang Lainnya

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved