Breaking News:

Politisi, Sembako dan Martabat Petani

Sebagai anak petani kampung, saya merasa sangat malu saat membaca berita: politisi membagi sembilan bahan pokok (sembako) di Kabupaten Lembata.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Politisi, Sembako dan Martabat Petani

Oleh Steph Tupeng Witin
Penulis Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” (Nusa Indah, 2016)

POS-KUPANG.COM - Sebagai anak petani kampung, saya merasa sangat malu saat membaca berita: politisi membagi sembilan bahan pokok (sembako) di Kabupaten Lembata. Ada sedikit beras, kopi, gula, teh, sarimi dan sebagainya.

Biasanya, berita itu disertai foto politisi dan tim sukses foto bersama warga dengan balutan pakaian seadanya. Warga berdiri sambil memegang kantong plastik berisi sembako. Latar belakang rumah reyot, dinding belahan bambu hutan dengan atap alang-alang.

Politisi tertawa sumringah, terkesan dipaksakan. Warga pun tersenyum tapi jauh dari kemurnian dan kesederhanaan. Semuanya diatur politisi dan tim sukses.

Fakta model ini dilakukan politisi dari kampung ke kampung di seluruh pelosok Lembata. Bahkan politisasi kelakuan warga ini merata di NTT yang didesain untuk semakin menegaskan fakta kemiskinan rakyat.

Di zaman teknologi digital ini, politisasi bantuan sembako memakai medium lebih canggih. Politisi dan tim merekam adegan penerimaan bantuan sembako dengan pernyataan singkat warga dalam video berdurasi pendek. Warga dilatih menghafal kata-kata titipan politisi yang terdengar asing di telinga dan tidak ia mengerti.

Hanya dalam hitungan menit, video itu viral di media sosial karena disebar secara masif. Orang kampung mendadak terkenal jadi “artis” hasil besutan dadakan politisi dan timnya.

Baca juga: Pilkades Serentak di Lembata Siap Dilaksanakan

Ketika melihat foto dan membaca berita, saya teringat pengalaman masa kecil di kampung. Terlintas kembali pengalaman hidup sederhana bersama orang tua yang saban hari bekerja keras di ladang. Setiap pagi, mereka bergegas menelusuri kali, mendaki bukit dan menuruni lereng menuju ladang.

Mereka membuka ladang, mengeringkan kayu, membakar, membuat pematang, dan menanaminya dengan benih jagung, padi, sayur, ubi dan sebagainya. Saat benih tumbuh, tangan-tangan merawat, menyiangi dan menjaganya dari gangguan hama alam.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved