Breaking News:

Coretan Dewa Putu Sahadewa

Italia vs Inggris: Final Piala Eropa Impian

Partai final ini akan berlangsung seru dan ketat. Kalau tidak berakhir dengan gol yang minim, ya adu penalti kembali akan terjadi.

Editor: Sipri Seko
Italia vs Inggris: Final Piala Eropa Impian
dokumen pos kupang
Dewa Putu Sahadewa

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Di antara sekian kemungkinan partai pada Euro 2020, partai Italia vs Inggris akhirnya terwujud. Sebuah partai impian yang akan tersaji di final.

Kedua negara dapat dikatakan mewakili dua kutub sepakbola Eropa. Italia dengan sejarah panjang pencapaian baik di Piala Dunia maupun Piala Eropa mewakili pola permainan yang mengandalkan pertahanan solid, pengaturan tempo permainan yang cenderung lebih lambat dan hati-hati.

Strategi ball possesion yang rumit dan mengandalkan kreatifitas pemain gelandang, bedanya pada Piala Eropa kali ini penyerangnya tidak ada yang menonjol.

Sementara Inggris malah negara tempat lahirnya sejarah sepakbola modern, pencapaian di piala dunia yang telah sekian abad tak pernah terulang, kegagalan di berbagai kejuaraan mayor, permainan yang cepat dan menyerang, kreatifitas lebih bertumpu pada barisan penyerang, bedanya kini Inggris nampak lebih kokoh di belakang. Sebuah kelemahan kronik yang mampu diperbaiki oleh Coach Gareth Southgate.

Menyimak lima pertemuan terakhir kedua negara, Inggris hanya mampu menang dalam satu partai persahabatan. Italia mampu memenangi 4 partai di mana dua di antaranya dan dalam dua partai di kejuaraan resmi termasuk di partai knock down piala Eropa dengan adu penalti.

Tentu ini akan menjadi beban tersendiri bagi negara dengan pencapaian Liga terbaik di Eropa, menempatkan dua finalis Liga Champion 2020/2021.

Dalam beberapa tahun terakhir Italia memang kalah moncer dari Prancis, Belgia atau Jerman. Tapi di bawah Roberto Mancini, sosok pelatih bertangan dingin yang jeli meramu dan merotasi pemainnya, Italia perlahan menuju top performance. Solid di semua lini, tidak meledak-ledak. Rapi dan konsisten.

Di final nanti Italia tidak boleh mengulang kesalahan Denmark yang membiarkan penyerang Inggris khususnya Raheem Sterling untuk menusuk terlalu dalam di area keramat, sebelum masuk kotak penalti sudah harus dicegat. Pemain belakang Italia punya kapasitas untuk memblokade umpan terobosan dan penetrasi agresif sayap kanan kiri Inggris. Kalau gagal bisa dipastikan risiko benturan yang berakibat penalti bisa didapat lagi oleh Inggris.

Serangan balik akurat ala Inter Milan di era Mourinho bisa diterapkan. Finisher model Insigne dan Chiesa yang terbukti mampu membuat sepakan melengkung indah masuk ke jala lawan akan memberi perbedaan hasil jika peluang terbuka.

Inggris akan memenangkan ball possesion yang tidak terlalu dibutuhkan oleh Italia .

Untuk bola mati, kedua tim punya kapasitas berimbang. Majunya Harry MaGuire untuk menyambut sepakan pojok jika diantisipasi dengan kecepatan dan akurasi akan memberi peluang Italia menang.
Sebaliknya jika kombinasi permainan sayap dan striker utama Harry Kane dibiarkan leluasa maka Inggris akan mengangkat Piala Eropa untuk pertama kalinya.

Malam final 12 Juli 2021, tentu Inggris tidak akan mau mengulang malam kelam saat kalah di semifinal piala dunia 2018 di tanggal yang sama. Seperti kata manajer Inggris Gareth Southgate "Kami telah melalui beberapa malam penuh tekanan dan kenangan pahit, saatnya untuk menatap ke depan. Inggris telah berubah secara tepat dan bersiap untuk menghadapi tantangan nyata yakni Italia. Tidak ada seorangpun pemain yang mau melihat ke belakang lagi."

Sang pelatih langka ini, karena sangat jarang Inggris dilatih oleh pelatih asli Inggris, juga punya kenangan pahit gagal menendang penalti ke gawang Jerman di piala dunia dan Inggris kalah. Jadi tim Inggris mesti melepaskan semua beban masa lalu, bermain sebebas Singa di Hutan dan trengginas mengobrak-abrik benteng selatan Roma, Porta San Paulo dan tentu juga bersiap untuk sebuah serangan balik mematikan dari para pemain Italia.

Pemain sayap Inggris pasca era Beckham mesti memanfaatkan kecepatan untuk melewati jangkar gaek penuh pengalaman Chiellini yang sudah berumur 36 tahun dengan 111 caps bermain untuk negaranya. Jangan terlalu berharap set piece apalagi adu penalti karena kiper Italia sangat tangguh. Para pemain Italia persis sama hausnya akan gelar juara Eropa karena baru hanya sekali di tahun 1968 mereka pernah juara.

"Kami telah membuktikan kepada publik yang tidak mendukung kami bahwa mereka salah. Kami telah melewati penderitaan dan musuh yang tangguh hingga sampai ke final, dan kami akan berjuang menghadapi seberat apapun tantangan untuk membahagiakan rakyat Italia. Ini masa yang sulit , kiranya gelar juara Piala Eropa akan membangkitkan semangat bangsa Italia." Mancini penuh keyakinan.

Alhasil partai final ini akan berlangsung seru dan ketat. Kalau tidak berakhir dengan gol yang minim, ya adu penalti kembali akan terjadi. Tanpa mengurangi rasa hormat pada harapan Walikota Kupang akan Inggris Juara maka bursa taruhan condong ke Italia. **

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved