Opini Pos Kupang

Actus Humanus di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Keberadaan pandemi Covid-19 dengan persebaran kasus yang mulai menanjak sejak 7 Juni 2021, menjadi penyebab kaburnya perasaan

Editor: Kanis Jehola
Dok Pos-Kupang.Com
Logo Pos Kupang 

Jikalau kita menjalin keterkaitan tindakan kita itu, dengan mimpi bersama kita untuk melenyapkan kasus Covid-19 dari kehidupan kita, tentu tak selaras.

Kita ingin virus corona lenyap, tapi toh kita sendiri yang lalai dan malas tahu dengan upaya kooperatif, kebijakan pemerintah untuk menangani persebaran kasus. Ini kan aneh dan mustahil untuk dipahami. Dua tindakan keburukan, sebagai actus humanus yang buruk

Jika kita meninjau lebih jauh tindakan kita tersebut yang sebagai subjek penyebab dari menanjaknya kasus Covid-19 beberapa waktu terakhir ini; kita dapat menyebut tindakan kita sebagai sebuah actus humanus yang buruk.

Disebut actus humanus yang buruk karena tindakan kita yang dipertimbangkan secara rasional dan dikehendaki secara bebas (tindakan etis) itu, mencuat dalam sikap enggan untuk bertanggung jawab atas akibat yang timbul dari tindakan kita tersebut.

Selain itu, tindakan yang kita jalankan, terbentuk oleh unsur-unsur tindakan yang buruk, sehingga tentu akan menghadirkan pemahaman bahwa actus humanus yang membentuk tindakan kita tersebut, buruk pula.

Kita dengan begitu berani hadir dalam actus humanus untuk pasrah begitu saja, berhadapan dengan situasi pandemi atau pun dengan berani bergerak dalam otonomi kebebasan diri yang egois, untuk malas tahu dengan kebijakan prokes dan vaksinasi.

Inilah sekurang-kurangnya unsur-unsur tindakan keburukan kita, sehingga actus humanus yang kita jalankan bermain peran dalam sebutan keburukan yang serupa.

Terhadap keburukan actus humanus kita sebagai subjek penyebab dari melonjaknya kasus Covid-19, dapatlah kita pahami bahwa actus humanus kita tersebut bergerak dalam payung kebebasan tindakan, yang dalam dunia filsafat disebut kebebasan yang libertarian-eksistensialisme (kebebasan sebagai sumber nilai moral).

Kita memunculkan tindakan kita di bawah payung kebebasan yang melihat diri sendiri secara otonom -tanpa suatu paksaan batiniah berdasarkan motif tertentu (rasional, intelektual) atau kondisi tertentu (psikis, ekonomis, sosial-politis).

Kita melihat bahwa tindakan kebebasan yang berdasarkan otonomi diri sendiri itu, sebagai sebuah perwujudan paling sempurna dari kehendak manusia dan mengabaikan kebebasan untuk mewujudkan kemampuan menentukan diri ke arah kebaikan dan nilai sejati.

Pelaksanaan tindakan di bawah naungan kebebasan model ini, tentu secara langsung akan mencederai konsep kewajiban sebagai ciri hakiki dari kebaikan moral.

Sebagaimana dalam pandangan Kant, tindakan yang secara etis baik adalah tindakan yang dilaksanakan karena kewajiban.

Sejatinya dalam tatanan kebaikan moral, kewajiban menghadirkan keharusan moral dalam diri seseorang untuk memunculkan tindakan, yang berdasar pada putusan yang bebas (actus humanus). Karena berdasar pada putusan yang bebas (penyebab bebas), maka tentu akan ada perwujudan tanggung jawab di dalamnya.

Memecahkan Actus Humanus yang Buruk

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved