Breaking News:

Buntut Surat Terbuka untuk Megawati, Pemangku Adat di NTT Dilecehkan

Pemangku adat di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Provinsi NTT) dilecehkan di media sosial

Penulis: Ryan Nong | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/RYAN NONG
Na'i Jabi Uf Amabi, Martinus Amabi (Kiri) saat memberi keterangan pada Senin 28 Juni 2021. 

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Ryan Nong

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Pemangku adat di Provinsi Nusa Tenggara Timur ( Provinsi NTT) dilecehkan di media sosial.

Pelecehan itu diduga terjadi sebagai respon terhadap surat terbuka yang disampaikan pemangku adat kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri atas persoalan pernyataan SARA Ketua DPRD Kota Kupang yang juga merupakan Ketua DPC PDIP di Kota Kupang, Yesekiel Laudoe.

Dalam keterangan pers yang berlangsung di Sonaf Teflopo, Oebufu Kecamatan Oebobo Kota Kupang pada Senin 28 Juni 2021 sore, Pemangku Adat di Wilayah Kupang, Na'i Jabi Uf Amabi, Martinus Amabi mengatakan, postingan dalam group focebook Forum Kota Kupang tentang Meo Naek Teflopo An Bi Pah Timor, Yoseph Ariyanto Ludoni merupakan bentuk pelecehan terhadap pemangku dan masyarakat adat.

Postingan yang diunggah pada 22 Juni 2021 itu, jelas Martinus Amabi, dapat disebut sebagai ujaran kebencian terhadap Meo Naek Teflopo An Bi Pah Timor Yoseph Ariyanto Ludoni.

Baca juga: Warga Hilang Diterkam Buaya, Pemangku Adat Gelar Ritual di Muara Sungai

 

"Sebagai pemangku adat Timor, kami sungguh tahu benar apa yang kami lakukan. Ini tidak hanya omong adat saja tetapi kami bicara lebih dari itu, sebagai orang Timor merasa dilecehkan," urai Amabi.

Ia mengatakan, sebagai manusia yang beradab, seharusnya semua dapat menghargai adat dan budaya yang beragam termasuk adat dan tradisi orang Timor.

Amabi menyebut, diduga postingan yang mengandung ujaran kebencian itu merupakan reaksi atas surat terbuka Meo Naek Teflopo, Yoseph Ariyanto Ludoni, kepada Megawati Soekarnoputri tertanggal 17 Juni 2021.

Surat itu telah diterima Megawati Soekarnoputri pada 19 Juni 2021. Selain dikirim, surat tersebut juga dirilis kepada publik dan dibacakan secara terbuka oleh Meo Naek Teflopo, Yoseph Ariyanto Ludoni di Sonaf Meo Naek Teflopo, 18 Juni 2021.

Baca juga: Pemangku Adat Kuanheum Diminta Selesaikan Masalah Tanah

Amabi mengatakan, postingan sebagai bentuk ekspresi itu telah menimbulkan keresahan, antipati, bahkan perlawanan terhadap individu. Kejahatan verbal tersebut berimplikasi merusak harkat dan martabat manusia.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved