Breaking News:

LSM Barakat Fasilitasi Pembuatan dan Penjualan Konektor Masker Buatan Penyintas Bencana

konektor masker yang cantik dan menawan. Aksesoris buatan tangan ini nantinya juga dipasarkan oleh Barakat

POS KUPANG.COM/RICARDUS WAWO
Dua orang penyintas bencana alam sedang merajut benang untuk dijadikan konektor masker di Posko LSM Barakat Lembata, Jumat, 11 Juni 2021.  

LSM Barakat Fasilitasi Pembuatan dan Penjualan Konektor Masker Buatan Penyintas Bencana

POS-KUPANG.COM|LEWOLEBA--Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barakat tak henti membantu dan memberdayakan masyarakat penyintas bencana alam di Kabupaten Lembata. Tak hanya memberikan bantuan logistik, lembaga non profit ini membantu para penyintas bencana melakukan pemulihan jiwa (trauma healing) dan pemulihan ekonomi (recovery economy) pasca bencana.

buat kerajinan tangan (handmade) berupa konektor masker (pengait masker) yang bisa digunakan siapa saja. Konektor masker ini terbuat dari benang khusus yang dirajut sendiri beraneka bentuk dan warna.

Sejak seminggu ini, sekelompok ibu-ibu penyintas dari desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur datang ke posko LSM Barakat di bilangan Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur.

Bersama pendamping dari Barakat, mereka belajar merajut benang tersebut menjadi konektor masker yang cantik dan menawan. Aksesoris buatan tangan ini nantinya juga dipasarkan oleh Barakat.

Direktur LSM Barakat Lembata Benediktus Bedil, berujar semua proses trauma healing dan pemulihan ekonomi ini ada dalam program yang disebut Moting Tulung Taling (Lamaholot).

Secara harafiah, Moting Tulung Taling menggambarkan aktivitas orang Lamaholot berkumpul dan berbincang bersama, lalu setelah itu saling memberi dari kekurangan.

"Jadi kami membuka semacam kelas namanya Moting Tulung Taling," kata Benediktus, saat ditemui di Posko LSM Barakat, Jumat, 11 Juni 2021.

Kelompok kerajinan tangan ini menurutnya dibuka khusus untuk perempuan kepala keluarga yang jadi jadi korban selamat saat musibah beberapa bulan yang lalu.

Dalam program Moting Tulung Taling, pihaknya mengundang beberapa penyintas untuk bercerita tentang pengalaman mereka saat terjadi bencana banjir dan longsor pada 4 April 2021 yang lalu.

Tanda-tanda alam yang mereka lihat dan rasakan saat itu serta pengalaman pada malam musibah itu akan dikumpulkan dan diabadikan dalam bentuk buku.

Dia mencontohkan, dari beberapa kali acara Moting Tulung Taling, diketahui sejumlah tanda alam yang sudah dialami warga sebelum bencana itu datang, di antaranya seperti, tiga ekor burung terbang ke pemukiman lalu pada jam 3 pulang kembali ke gunung, nyamuk agas yang biasanya ada di hutan mangrove tiba-tiba ada masuk ke kampung dan ada pula yang mencium bau darah. 

"Dan itu bisa jadi warisan yang berarti untuk anak cucu di masa mendatang," tambahnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved