Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Kamis 10 Juni 2021: Agama Kasih

Beragama secara benar tidak cukup hanya sebatas rajin dan tertib berdoa, beribadah, berliturgi dan melaksanakan semua ritus keagamaan.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Kamis 10 Juni 2021: Agama Kasih (Mat: 5:20-26)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Tuhan Yesus mengajarkan kita bagaimana menghayati hidup keagamaan secara benar di tengah dunia. Beragama secara benar tidak cukup hanya sebatas rajin dan tertib berdoa, beribadah, berliturgi dan melaksanakan semua ritus keagamaan. Ini pekerjaan rutin yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat.

Yesus tidak pernah melarang aktivitas seremonial dan ritus ini. Semuanya penting dan harus kita laksanakan dengan baik. Tetapi kita tidak boleh hanya berhenti pada seremoni dan ritus saja. Yesus pernah mengingatkan bahwa kalau menitikberatkan pada aspek seremoni dan ritual, kita hanya mengagungkan kesalehan privat. Kita ibarat kubur yang di luar bercat indah tapi di dalamnya berserakan tulang belulang tak teratur, penuh debu dan berbau.

Menghayati agama secara benar mencakup aspek vertikal: hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan aspek horizontal: hubungan baik dengan sesama dan alam lingkungan.

Maka dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa antara memberikan persembahan kepada Tuhan dan berdamai atau berelasi baik dengan sesama adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan tetapi harus berjalan seiring. Asap dupa sarat wewangian harum yang membubung ke langit harus berdasar pada pijakan kaki yang kuat di tengah realitas.

Orang Lamaholot di Flores Timur (Flores darat, Adonara, Solor) dan Lembata mempunyai satu ungkapan yang indah: Lera Wulan Tana Ekan. Tuhan langit dan leluhur, alam, lingkungan di bumi. Seluruh sejarah hidup di atas dunia, yang kelihatan adalah pengabdian total kepada Allah di langit, tidak kelihatan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan agama dengan penegasan akan pentingnya keseimbangan dan keharmonisan relasi dengan Tuhan dan sesama, termasuk dengan alam lingkungan. Agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Maka agama itu dimaksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungan. Agama berandil menghilangkan kekacauan relasi tersebut.

Dengan demikian, menghayati agama atau hidup beragama secara benar berarti menjalin hubungan yang harmonis dan damai, baik dengan Tuhan, sesama maupun lingkungan. Pada titik ini akhirnya menjadi terang bahwa kekerasan dan kekacauan atas nama agama tidak dapat dibenarkan. Sebab, kekerasan dan kekacauan itu dengan sendirinya bertentangan dengan hakikat agama, apa pun nama agama itu.

Omong kosong besar bahwa kita orang beragama, lebih dalam: orang beriman, yang selalu berteriak di jalan menyebut nama Allah hingga urat leher menonjol tapi tangan kita memegang pedang berdarah. Sesama yang kita “bunuh” itu adalah “kita yang lain” yang mesti kita rawat dan jaga keselamatannya.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved