Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: KUASA ITU MENGGIURKAN

Ada yang bilang kuasa itu bukan anugerah, melainkan tugas atau amanah. Sementara ada yang lain meyakini bahwa kuasa itu sesuatu yang terberi

Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik, Sabtu 29 Mei 2021: KUASA ITU MENGGIURKAN (Markus 11:27-33)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Ada yang bilang kuasa itu bukan anugerah, melainkan tugas atau amanah. Sementara ada yang lain meyakini bahwa kuasa itu sesuatu yang terberi, tapi bukan untuk dinikmati, melainkan untuk mengabdi, melayani. Dalam kaitan dengan ini, kuasa melekat dengan panggilan dan ia lalu mendapat predikat suci, menjadi kuasa suci, sacra potestas.

Dalam kenyataan, kuasa itu menggiurkan, sering meninabobokan nurani dan membutakan kesadaran. Apalagi kuasa yang berkilau kemegahan, yang diiming-imingi kekayaan. Ia bisa merayu dan mendorong untuk melakukan apa pun, tanpa batas, tanpa ada yang bisa membatasi. Pantas kalau sampai Lord Acton bilang, "Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely".

Seseorang menulis sebuah narasi yang menarik: "Kuasa itu fitnah besar yang berwajah kenikmatan. Karena dengan kuasa, bisa berbuat suka-suka. Karena dengan berkuasa, semua tunduk dan nurut, jika telunjuk sudah menunjuk. Tak lagi lihat yang tua atau yang muda. Tak lagi lihat yang alim atau yang awam. Tak lagi lihat yang bergelar atau yang miskin gelar. Tak lagi lihat kaya atau miskin. Dan di sinilah kuasa jadi fitnah. Saat kuasa jadi kesewenang-wenangan, jadi alat meraih ambisi dan cita-cita pribadi".

Bisa dimengerti kalau orang berupaya menggapai dan memegang kuasa; kalau banyak yang berebutan untuk berkuasa; ada yang tak rela kuasanya tergerus atau bahkan kehilangan kuasa; pun ada yang merasa terganggu, tak tenang, takut kuasa yang dipegangnya lepas. Tak sedikit orang yang mencurigai sesamanya. Bahkan tak segan menghabisi sesamanya, hanya karena termakan obsesinya sendiri akan kuasa.

Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua adalah pemimpin spiritual Yahudi. Kedudukan mereka dalam masyarakat sangatlah terhormat dan dihormati. Pengaruhnya begitu kuat dan luas, dalam bidang agama, kemasyarakatan hingga dalam dunia politik. Tentulah mereka sangat nyaman dan diuntungkan oleh kedudukannya. Makanya, mereka menjaga agar tak digoyang oleh orang atau pihak mana pun.

Injil memaparkan banyak kisah tentang sepak terjang mereka dalam mengamat-amati Yesus. Soalnya kehadiran Yesus dengan integritas pribadi, kefasihan berkotbah dan kewibawaan dalam mengajar; apalagi dengan kehebatan-Nya dalam melakukan perbuatan ajaib; pasti dipandang sebagai ancaman serius bak gempa bumi dan tsunami yang dapat menggoncangkan status quo dan memporak-porandakan bangunan kekuasaan mereka.

Markus menunjukkan satu peristiwa unik. Ketika melihat Yesus yang barusan mengusir para pedagang dari halaman Bait Allah, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua itu datang dan mempertanyakan Yesus. "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepadamu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" (Mrk 11:28).

Coba perhatikan! Mereka mempertanyakan kuasa yang menjadi dasar tindakan Yesus. Padahal apa yang dilakukan oleh Yesus itu benar, baik dan seharusnya diapresiasi dan didukung. Sebagai orang yang memegang kuasa, apalagi kuasa spiritual, seharusnya mereka tahu dari mana kuasa Yesus dan pasti mudah menilai keabsahan kuasa Yesus.

Mudah disimpulkan bahwa kuasa bisa membuat orang tidak lagi rasional. Kuasa bisa menggelapkan orang sehingga lupa diri dan tak tahu diri.

Dengan tidak meladeni dan menjawab pertanyaan para pemimpin Yahudi itu, Yesus seakan menunjukkan bahwa kuasa yang telah diselewengkan tak lagi bermakna, tak lagi punya nilainya. Kuasa yang berorientasi pada kedudukan dan kehormatan, tak lagi berkarakter, kehilangan orientasi.

Kiranya kita selalu mengingatkan diri agar tidak tergiur oleh kuasa yang berorientasi kedudukan dan kehormatan. Kuasa itu memang terberi, tapi semestinya untuk mengabdi. Kita menjaga agar ia tetap bernilai suci, karena tak disalahgunakan untuk kepentingan diri, tapi melulu dipakai untuk kebaikan. Sebagai orang yang diberi kuasa, kita mawas diri agar tak termakan obsesi bahwa hanya diri yang berkuasa. Soalnya, Tuhan yang mahakuasa, tak mungkin hanya menggunakan diri kita sendiri yang terbatas untuk menghadirkan kuasa-Nya yang agung.*

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Akses artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved