Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Mei 2021: Tanda Syukur
Pertanyaan Petrus soal upah mengikuti Yesus sesungguhnya merepresentasikan keinginan alamiah setiap manusia. Setiap pekerja patut mendapat upah.
Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Mei 2021: Tanda Syukur (Mrk 10: 28-31)
Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD
POS-KUPANG.COM - Pertanyaan Petrus soal upah mengikuti Yesus sesungguhnya merepresentasikan keinginan alamiah setiap manusia. Setiap pekerja patut mendapat upah. Nelayan yang semalam suntuk melayang-layang di atas danau, berharap ada ikan tersangkut pada jala.
Petrus menjadi sosok rasul yang paling berani dan vokal menyuarakan keinginan dasariah para rasul. Keberanian Petrus yang terkadang “ceroboh” ini menarasikan sosok pemimpin yang berani mengambil risiko. Ia mampu membaca kegalauan hati para rasul lain.
Pertanyaan Petrus menjadi gerbang bagi Yesus untuk meneguhkan iman para rasul melalui ajaran yang menjadi inti hidup kekristenan. Pertanyaan-pertanyaan Petrus menggambarkan kecerdasan sang nelayan kekar danau Galilea ini.
Menurut Romo Mangunwijaya, anak yang cerdas adalah anak yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari keaslian jiwa, bukan anak yang mampu menjawab pertanyaan guru, apalagi jawaban itu hanya sekadar membeo dari induk “burung beo.” Tentu saja, induk beo akan memberi angka yang tinggi karena telanjur dianggap pintar menghafal kata-katanya.
Yesus memberi janji kepada siapa pun yang meninggalkan segala-galanya demi Tuhan dan Injil, akan memperoleh balasan 100 kali lipat. Ikut Yesus berarti menginvestasi sebuah janji hidup bahagia di masa depan.
Janji itu menginsafkan setiap orang bahwa dunia ini fana, sementara. Dia hanya menjadi tempat kita memurnikan diri agar menjadi manusia yang pantas menikmati sukacita.
Syaratnya, kita mesti meninggalkan segala-galanya yang berdaya membelenggu, memperbudak dan menghilangkan kemurnian jiwa kita mempersembahkan diri kepada Tuhan.
Yesus tidak pernah mengatakan bahwa harta kekayaan itu buruk dan tidak perlu. Justru harta kekayaan itu rahmat titipan Allah yang mesti dijadikan sarana untuk membahasakan kasih Tuhan kepada sesama sekaligus menjadi sarana pemurnian iman.
Orang kaya memang sukar masuk Kerajaan Allah tapi bukan berarti tidak bisa. Selalu ada potensi dan peluang yang Tuhan sediakan. Kitalah yang mesti peka membaca tanda-tanda zaman itu.
Tuhan tidak pernah ingkar janji. Roh Kudus yang Ia janjikan telah menjadi penolong dan peneguh ziarah kesaksian iman kita di tengah dunia. Roh Kudus itu telah mengubah para rasul menjadi pewarta yang berani. Roh itu menggelorakan semangat melawan ketakutan dan teror yang melumpuhkan komitmen kenabian.
Dalam Injil hari ini, Dia menjanjikan upah sukacita kekal kepada setiap orang yang melepaskan diri dari segala keterikatan duniawi dan mempersembahkan kemurnian hatinya untuk keselamatan segenap makhluk.
Tentu saja, penyangkalan diri dan penyaliban hasrat duniawi membutuhkan energi perjuangan yang sangat berat. Semakin kita berkomitmen, setan pun makin mendekatkan komitmen perusakannya pada kita. Di mana ada tempat yang kudus, di situ setannya lebih besar dan gemuk-gemuk.
Janji Yesus untuk menyertai kita sampai akhir zaman selalu menjadi kekuatan iman. Janji itu kita alami nyata dalam seluruh peristiwa ziarah hidup ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pater-steph-tupeng-witin-svd.jpg)