Breaking News:

Gubernur NTT Resmikan Kampus Bambu Pertama di Indonesia

aktif mengkampanyekan dan mewujudkan bambu sebagai solusi lingkungan dan solusi ekonomi bagi masyarakat pedesaan di NTT.

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
Gubernur NTT, menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian kampus bambu pertama di Indonesia. Gambar diambil, Senin 24 Mei 2021. 

Gubernur NTT Resmikan Kampus Bambu Pertama di Indonesia

POS-KUPANG.COM | BAJAWA--Provinsi NTT boleh berbangga hati sebagai sebuah provinsi pertama di Indonesia yang memiliki Kampus Desa Bambu Agroforestri. Kampus tersebut diresmikan langsung oleh Gubernur NTT Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada Senin 24 Mei 2021 pagi.

Kampus Desa Bambu Agroforestri terletak di daerah Turetogo di Desa Ratogesa, Kecamatan Golewa,
Kabupaten Ngada. Berdiri di atas lahan satu hektar, kampus tersebut dibangun oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL), organisasi nirlaba yang sejak 1993 telah aktif mengkampanyekan dan mewujudkan bambu sebagai solusi lingkungan dan solusi ekonomi bagi masyarakat pedesaan di NTT.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang disaksikan oleh sejumlah pejabat teras Pemprov NTT serta Bupati Ngada, AKBP (Purn) Paru Andreas. Hadir pula Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Bito Wikantosa.

Baca juga: Dukung Pemanfaatan EBT, Gubernur NTT Tinjau Eksplorasi PLTP Mataloko

Sebelumnya, Gubernur NTT VBL sempat meninjau bangunan serta fasilitas yang terdapat di kampus tersebut, diantaranya fasilitas pengawetan bambu, pameran poster serta Rumah Bambu Lestari, bangunan berbahan bambu laminasi yang didesain untuk perumahan sosial maupun rekonstruksi pasca bencana. 
Rumah Bambu Lestari didesain sebagai struktur knock down, yang bisa dibongkar-dikirim-dirakit dengan cepat dan murah. Selain itu Gubernur NTT VBL juga ikut serta menanam bibit bambu bersama ibu-ibu pembibit.

"Bambu adalah kehidupan, bambu adalah masa depan. Saya berterimakasih kepada mama-mama yang telah merawat bambu," kata VBL kepada para ibu yang hadir.

Gubernur VBL juga berkesempatan mendengarkan alunan suling bambu "foy doa" yang dimainkan komposer dan pembuat suling Anis Wawo. Seniman yang berusia 85 tahun ini telah menciptakan suling baru pentatonik yang diberi nama Doa Foy Doa.

Baca juga: Ide Gubernur Viktor Laiskodat Untuk Desa di NTT, Ingin Gabungkan BUMDes dan Koperasi 

Kampus Desa Bambu Agroforestri Turetogo akan difungsikan sebagai lokasi Sekolah Lapang Bambu
(SLB), sebuah inisiatif edukasi YBL bagi individu, masyarakat desa, komunitas adat, maupun organisasi perempuan dan pemuda.

Kurikulum SLB mencakup berbagai aspek pengembangan bambu agroforestri (wanatani), dari hulu, tengah hingga hilir. Di hulu, bambu agroforestri mencakup pembibitan, perawatan serta pemanenan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Hutan Bambu Lestari.

Di tengah, bambu agroforestri mendorong lahirnya pabrik pengolahan bambu di tingkat desa yang dikelola oleh koperasi petani maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Sedangkan di hilir, bambu agroforetri membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melahirkan produk-produk bambu yang inovatif dan memiliki nilai tambah tinggi.

Baca juga: Gubernur NTT: Pembangunan Pariwisata dengan Bekerja Cerdas, Cepat dan Tepat

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved