Kamis, 11 Juni 2026

Israel dan Hamas Gencatan Senjata

Setelah 11 Hari Berperang Israel dan Hamas Gencatan Senjata, Warga Gaza Turun ke Jalan

Kesepakatan ini setidaknya menjadi kabar baik bagi masyarakat sipil kedua negara setelah 11 hari aksi saling serang berlangsung dan korban jiwa berjat

Tayang:
Editor: John Taena
MOHAMMED ABED / AFP
Seorang pria mengibarkan bendera Palestina ketika yang lain mengibarkan tanda V untuk kemenangan saat mereka merayakan gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir antara Israel dan dua kelompok bersenjata utama Palestina di Gaza pada 20 Mei 2021 

POS-KUPANG.COM - Israel dan Palestina akhirnya mencapai kesepakatan untuk gencatan setelah kurang lebih satu minggu berperang.

Dikutip dari AP News, Jumat 21 Mei 2021, gencatan senjata disepakati kedua belah pihak pada Kamis 20 Mei 2021.

Kesepakatan ini setidaknya menjadi kabar baik bagi masyarakat sipil kedua negara setelah 11 hari aksi saling serang berlangsung dan korban jiwa berjatuhan di kedua pihak.

Namun, apa sesungguhnya arti gencatan senjata ini?

Arti gencatan senjata

Warga Palestina meneriakkan slogan-slogan merayakan gencatan senjata yang dicapai setelah perang 11 hari antara Hamas dan Israel di Gaza City, Jumat 21 Mei 2021.
Warga Palestina meneriakkan slogan-slogan merayakan gencatan senjata yang dicapai setelah perang 11 hari antara Hamas dan Israel di Gaza City, Jumat 21 Mei 2021. (AP PHOTO/KHALIL HAMRA)

Dalam bahasa Inggris, gencatan senjata adalah ceasefire. Dikutip dari CNN 25 Juni 2010, ceasefire berasal dari 2 kata yakni "cease" dan "fire".

Secaca harfiah, "cease" berarti berhenti dan "fire" berarti api. Dalam konteks gencatan senjata, kata "fire" dimaknai sebagai penembakan senjata api.

Jadi, ceasefire atau gencatan senjata adalah kebijakan di mana pihak yang berkonflik sepakat berhenti menembakkan atau meluncurkan senjata-senjata api.

Ketika kesepakatan ini diambil, itu berarti pihak-pihak yang berkonflik tidak dibenarkan meluncurkan serangan alias menghentikan pertempuran yang sebelumnya terjadi.

Namun, terkadang kesepakatan untuk gencatan senjata hanya berlaku untuk sementara waktu maupun permanen.

Jika sementara waktu, kemungkinan konflik masih akan kembali terjadi di waktu yang akan datang. Meski menghentikan pertempuran, kebijakan ini belum tentu berarti perdamaian atau berakhirnya peperangan.

Gencatan senjata bisa jadi diambil dengan alasan kedua belah pihak ingin bernegosiasi kesepakatan apa yang ingin mereka capai.

Bisa juga keduanya melibatkan pihak ketiga yang bersifat netral dalam negosiasi tersebut. Selain itu, gencatan senjata juga bisa jadi menjadi taktik atau tipu muslihat satu pihak untuk melakukan tindakan yang lebih masif di waktu selanjutnya.

Kondisi terkini di Gaza Pasca keputusan gencatan senjata disetujui kedua belah pihak, situasi di kedua negara nampak jauh lebih tenang tanpa adanya asap-asap roket yang jatuh dan membumihanguskan apa yang ada di bawahnya.

Masyarakat pun nampak bergembira, setidaknya saat ini tidak ada serangan yang mengancam keselamatan jiwa mereka.

Berdasarkan laporan Reuters, 21 Mei 2021, masyarakat di jalur Gaza turun ke jalan pada Jumat dini hari atau pukul 02.00 waktu setempat, merayakan gencatan senjata ini dengan meneriakkan sanjungan dan rasa syukur kepada Tuhan.

"Allahu akbar, Alhamdulillah!," seru mereka.

Mobil-mobil memenuhi jalanan Gaza dan mereka beramai-ramai membunyikan klakson.

Ada pula yang mengibarkan bendera negara dari jendela rumah.

Ini menjadi satu titik yang mereka anggap sebagai kemenangan dalam melawan serangan militer Israel yang memiliki kekuatan jauh di atas militer Hamas.

Namun, kerusakan banyak bangunan dan infrastruktur dapat dengan mudah ditemui di sudut-sudut kota.

Hal ini semakin memperparah kondisi pembangunan Palestina, yang selama ini tidak mudah dalam hal perekonomian di bawah tekanan pendudukan Israel.

Sejarah konflik Israel-Palestina

Melansir Independent, 20 Mei 2021, konflik antara Israel dan Palestina muncul sejak ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum negara Israel didirikan pada Mei 1948.

Tepatnya, konflik itu berawal tahun 1799, ketika Napoleon Bonaparte mengusulkan tanah Palestina sebagai Tanah Air orang Yahudi.

Inggris tidak bisa dilepaskan perannya, karena negara itu lah yang meletakkan dasar nyata keberadaan satu negara Yahudi di Palestina.

Berdasarkan alur konflik Palestina-Israel yang disajikan Aljzeera, pada tahun 1947-1949, 80 tanah Palestina dirampas oleh Zionis (Israel) dan lebih dari 80 persen masyarakatnya diusir.

Setidaknya ada 150.000 warga Palestina yang tetap tinggal di wilayah Israel hingga akhirnya diberi status kewarganegaraan dan tunduk lasa aturan militer hingga 1966.

Kemudian, pada 1967 wilayah tepi barat dan Jalur Gaza ditaklukkan Israel.

Negara modern ini pun memulai kendali militernya atas orang-orang Palestina yang tinggal di Wilayah Pendudukan Palestina.

Lalu pada 1968-1992 Israel berhasil menduduki sisa wilayah Palestina yang memiliki nilai historis tinggi.

Mereka membangun pemukiman di tepi barat dan Jalur Gaza dan diizinkan membawa senjata di bawah perlindungan tentara Israel.

Hingga sekarang, salah satu konflik paling panjang dan kontroversial di dunia ini terus berlangsung.

Kelompok Zionis Yahudi dengan kelompok Nasionalis Palestina mengklaim wilayah yang sama. Zionis mencoba merebut kawasan tepi barat dan Jalur Gaza dari Palestina, sementara Palestina berupaya sekuat tenaga untuk mempertahannkannya.

Masing-masing kelompok ini berseteru dengan dukungan yang datang dari negara-negara lain yang ada di pihaknya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Arti Gencatan Senjata Israel-Hamas dan Kondisi Terkini Gaza Palestina" dan Pos-Kupang.com dengan judul Gencatan Senjata dan Sejarah Konflik Israel-Palestina yang Sudah Berlangsung Lama

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved