Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Rabu 5 Mei 2021: TANGGUNG JAWAB RANTING

Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar. Para murid, termasuk kita, adalah ranting-ranting yang tumbuh dari pokok itu.

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Rabu 5 Mei 2021: TANGGUNG JAWAB RANTING (Yohanes 15:1-8)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar. Para murid, termasuk kita, adalah ranting-ranting yang tumbuh dari pokok itu. Juga Bapa-Nya di surga digambarkan sebagai yang mengusahakan agar ranting-ranting semakin berbuah.

Kita paham dengan yang dimaksudkan dengan pokok anggur dan ranting-ranting. Pokok anggur itu sama pokok mangga, jambu, durian, dan lainnya. Pokok itu tak lain adalah batang atau bagian pohon yang dari padanya tumbuh ranting-ranting.

Bagian pohon itu dapat hidup terus meski ranting-rantingnya dipangkas. Ia dapat tumbuh bersemi lagi walau tampaknya mati. Dari pokok itulah ranting-ranting nantinya berbuah.

Kita pun terbantu memahami tentang pokok anggur itu, saat kita berbicara tentang marga, suku kita. Dari silsilah, kita tahu leluhur yang dari padanya kita dan begitu banyak anggota suku atau marga diturunkan. Dalam masyarakat adat Batak, Raja Lotung adalah pokok yang mengasalkan 9 marga. Parna sebagai persadaan Nai Ambaton adalah pokok yang mempersatukan 70 marga.

Yesus tak hanya mengibaratkan diri-Nya sebagai pokok anggur, tapi "pokok anggur yang benar". Artinya, Dia bukanlah pokok aspal alias asli tapi palsu. Ia bukan pokok sekedar pokok, bukan abal-abal atau kaleng-kalengan. Ia adalah pokok yang sejati; pokok subur yang tetap memberi pertumbuhan ranting-ranting sehingga berbuah lebat dan baik. Jadi, Ia pasti memberi kita hidup, membuat hidup kita bergairah.

Namun ada hal penting untuk permenungan kita. Bahwa sebagai ranting, kita harus tinggal di dalam Dia, agar kita berbuah. "Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:5). Ada 2 (dua) hal penting terungkap di sini.

Pertama, kita harus tinggal di dalam Dia. Artinya, kita harus terhubung dengan Dia. Tidak bisa tidak! Kita tak mungkin bisa hidup dan berbuah dari diri kita sendiri, dengan kekuatan dan keahlian kita sendiri. Sehebat, sejago, seahli dan semahir apa pun, kita tak bisa lakukan apa saja dan berhasil tanpa Dia. Pada titik tertentu, seorang dokter spesialis yang luar biasa, tetap akan bilang, "Saya hanya berusaha sejauh bisa. Tuhan-lah yang menentukan".

St. Paulus, rasul besar pun pernah berujar dengan segala kerendahan hati, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan" (1 Kor 3:6-7).

Kedua, sebagai ranting, kita harus berbuah. "Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah" (Yoh 15:2). Artinya, ranting tidak boleh hanya jadi ranting; tak boleh puas setelah menjadi ranting. Ranting mesti berbuah.

Hakekat buah adalah kemanfaatan, kegunaan untuk dinikmati orang. Jadi, kita tak boleh puas jadi pastor, suster, sarjana, profesor, guru, bapa atau ibu; tapi kita harus menjadi orang yang bermanfaat dan berdaya guna untuk orang lain.

Ibarat buah memberikan kesegaran dan vitamin C untuk imunitas tubuh manusia, hidup kita semestinya menggairahkan dan menguatkan hidup orang lain. Seperti buah yang memperlancar pencernaan, hidup kita pun sebisanya memperlancar dan bukannya memampetkan hidup dan karya orang. *

Simak juga video renungan harian katolik berikut:

Baca artikel-artikel renungan harian katolik lainnya DI SINI

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved