Breaking News:

Praktek Sifon dalam Sunat Tradisional TTS, Dominasi Hegemoni Kekuasaan Laki-laki Terhadap Perempuan

Praktek Sifon dalam Sunat Tradisional Kabupaten TTS, Dominasi Hegemoni Kekuasaan Laki - laki Terhadap Perempuan

POS-KUPANG.COM/JHO LENA
Tim peneliti saat berada di kolam pemandian tempat sunat tradisional desa Fatukoto Kecamatan Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Senin 26 April 2021 

Setelah disunat, lanjut Stef, akan muncul infeksi yang dalam bahasa daerah disebut Kaulili. Kaulili dalam bahasa dawan berarti tomat.

LOKASI SUNAT - Kolam pemandian pada kali di Desa Fatukoto, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan menjadi tempat dilaksanakan sunat tradisional.
LOKASI SUNAT - Kolam pemandian pada kali di Desa Fatukoto, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan menjadi tempat dilaksanakan sunat tradisional. (POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI)

"Kaulili itu sebenarnya gambaran dari infeksi luka itu sendiri. Makanya diibaratkan seperti itu," ujarnya.

Sementara dari aspek penularan penyakit terutama HIV, sangat beresiko karena jika tanpa luka, resiko penularannya kecil tapi kalau ada luka akan sangat beresiko.

"Sebenarnya sunat ini dari aspek kebersihan memang bagus sekali. Tetapi yang kita harapkan adalah kalau bisa datang sunat secara medis. Yang kedua kalaupun misalnya melakukan sunat tradisional jangan ada embel - embel seperti harus Sifon, termasuk pengobatannya juga harus secara medis sehingga bisa meminimalisir resiko penularan," tandasnya.

Sementara itu pengamat kesehatan masyarakat yang juga turut serta dalam penelitian tersebut, Pius Weraman mengatakan, budaya sunat tradisional dan Sifon sudah ditanamkan sejak leluhur ada di TTS.

Baca juga: Pria TTS Masih Doyan Sifon, Meskipun Tidak Diwajibkan Lagi

"Jadi riset ini sangat bermanfaat, yang saya lihat ini mau mengembalikan martabat perempuan," katanya.

"Sebagai orang kesehatan masyarakat, saya memandang disini ada empat ruang lingkup. Bidang kesehatan yang pertama adalah promotif, artinya kita memberikan edukasi supaya mereka mengendalikan diri untuk menjaga kesehatan dari aspek sterilisasi alat yang digunakan supaya mencegah infeksi yang akan terjadi," jelas dosen FKM Undana ini.

Kemudian dari aspek kuratif, lanjut Pius, masyarakat masih sangat lemah karena selalu menggunakan ramuan tradisional yang artinya mereka belum memahami benar menggunakan obat - obat yang diproduksi pabrik untuk bisa mengobati luka.

Dari aspek rehabilitatif, Pius mengatakan, lebih didominasi oleh praktek Sifon dimana yang sudah melakukan sunat tradisional, untuk memulihkan kembali, pasien harus mendapatkan perempuan yang bisa berhubungan untuk bisa - istilah mereka - mendinginkan, tetapi jika dilihat dari aspek higiene dan sanitasi  kurang baik karena dengan obat tradisional yang ditempelkan bisa menyebabkan infeksi lanjutan dan kemudian memudahkan penularan penyakit yang lain.

"Kita lihat bahwa mereka ini kan menggunakan alat - alat yang tidak steril. Mestinya ada sterilitas alat untuk menjaga agar tidak terjadi infeksi lanjutan karena ketika terjadi infeksi lanjutan, dia bisa menimbulkan tetanus dan itu mempercepat kematian sehingga hal itu harus dihindari benar," pungkasnya. (POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi).

Editor: Gordy Donofan
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved