Breaking News:

Praktek Sifon dalam Sunat Tradisional TTS, Dominasi Hegemoni Kekuasaan Laki-laki Terhadap Perempuan

Praktek Sifon dalam Sunat Tradisional Kabupaten TTS, Dominasi Hegemoni Kekuasaan Laki - laki Terhadap Perempuan

POS-KUPANG.COM/JHO LENA
Tim peneliti saat berada di kolam pemandian tempat sunat tradisional desa Fatukoto Kecamatan Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Senin 26 April 2021 

Praktek Sifon dalam Sunat Tradisional Kabupaten TTS, Dominasi Hegemoni Kekuasaan Laki - laki Terhadap Perempuan

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Praktek Sifon dalam sunat tradisional di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dipandang sebagai dominasi hegemoni kekuasaan laki-laki terhadap perempuan dalam ritual budaya.

Hal ini diungkapkan oleh salah satu peneliti dari Universitas Multimedia Nusantara, Dr. Bherta Sri Eko M yang melakukan penelitian dan turun ke lapangan di Desa Fatukoto, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS Senin 26 April 2021.

Sebagai tenaga pendidik yang berlatar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, Bherta melihat tradisi ini dari perspektif komunikasi, terutama komunikasi antar budaya.

Baca juga: Sifon Dalam Budaya TTS: Ritual Menyembuhkan Luka Sunatan

"Karena kajian - kajian saya selama ini banyak mengembangkan kajian budaya terutama dalam konteks komunikasi antar budaya," ungkap Bherta.

Dukun (tengah baju merah) saat berada di desa Fatukoto Kecamatan Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Senin 26 April 2021
Tim peneliti saat berada di desa Fatukoto Kecamatan Molo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan Senin 26 April 2021(POS KUPANG.COM/JHO LENA)

Awal penelitian, kata Bherta, dia sebenarnya ingin memberikan semacam kesadaran kepada perempuan.

"Bahwa didalam ritual Sifon, meskipun mereka mematuhi, tetapi didalam tanda kutip atas nama ritual budaya, mereka sebenarnya jadi objek. Ketika mereka menjadi objek, hubungan antara laki - laki dan perempuan ini bersifat asimetris artinya tidak setara," jelas Bherta.

Menurut dia, ada relasi kekuasaan yang bermain dalam konteks ritual ini, bahwa laki - laki ditempatkan dalam posisi yang lebih tinggi dari perempuan dan perempuan dalam hal ini sebenarnya tidak berani melawan karena mungkin saja secara budaya, perempuan kodratnya harus nurut sama laki - laki dan harus mau melayani laki - laki bagaimanapun kondisinya.

"Itu mindset yang ditanamkan secara budaya," tukasnya.

Dalam konteks Indonesia, lanjut Bherta, budaya patriarki sangat dominan dalam setiap level kehidupan dan diperkuat oleh ritual - ritual budaya.

Halaman
123
Editor: Gordy Donofan
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved