Breaking News:

Kadis Kesehatan : Kabupaten Sumba Timur Masih Zona Merah Malaria

Kabupaten Sumba Timur saat ini masih menjadi salah satu daerah dengan kasus malaria atau masih zona merah.

POS-KUPANG.COM/OBY LEWANMERU
Kepala Dinas Kesehatan Sumba Timur, dr. Chrisnawan Try Haryantana 

Kadis Kesehatan : Kabupaten Sumba Timur Masih Zona Merah Malaria

POS-KUPANG.COM|WAINGAPU -- Kabupaten Sumba Timur saat ini masih menjadi wilayah zona merah dalam kasus malaria dan juga Demam Berdarah Dengue (DBD). Saat ini tidak ada kasus meninggal dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur, dr. Chrisnawan Try Haryantana, Senin 3 Mei 2021

Menurut Chrisnawan, Kabupaten Sumba Timur saat ini masih menjadi salah satu daerah dengan kasus malaria atau masih zona merah.

"Jika kita lihat, maka di Pulau Sumba ini Sumba Timur termasuk salah satu kabupaten yang berkontribusi pada kasus malaria. Sumba ini juga sebagai  daerah yang berkontribusi kasus malaria di Provinsi NTT," kata Chrisnawan.

Baca juga: Korban Badai Seroja di Kiritana Kabupaten Sumba Timur Terima Bantuan dari BLU PIP

Dijelaskan, kasus malaria ini juga menjadi salah satu perhatian pemerintah karena kasusnya cukup tinggi.

"Saat ini ada tiga daerah di Sumba yang tinggi kasus malaria, yakni di Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Timur. Sedangkan Sumba Tengah sudah jadi zona kuning atau kasus malaria mulai landai," katanya.

Direktur BLU-PIP, Ririn Kadariyah, Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTT, Lydia Kurniawati Christyana, Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Waingapu, Delfiana Lase berada di tengah-tengah anak Panti Asuhan Kristen Prailiu, Sumba Timur, Jumat (30/2021)
Direktur BLU-PIP, Ririn Kadariyah, Kakanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi NTT, Lydia Kurniawati Christyana, Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Waingapu, Delfiana Lase berada di tengah-tengah anak Panti Asuhan Kristen Prailiu, Sumba Timur, Jumat 30 April 2021 (POS-KUPANG.COM/Oby Lewanmeru)

Dikatakan, di Sumba insiden parasit masih tinggi sehingga belum bisa mengeliminasi kasus.
Prinsipnya kasus yang ada diobati hingga sembuh.

"Jadi apabila ada yang sakit, ditemukan maka harus diobati hingga tuntas, kemudian pengendalian vektor dan mekanisme yang lain.  Jika vektor tidak ada maka kasusnya juga tidak ada," katanya.

Dia mengatakan, pihaknya selalu melakukan sosialisasi tentang pencegahan malaria mulai dari tingkat Dinas Kesehatan sampai di puskesmas-puskesmas.

Baca juga: Puskesmas Kota Atambua Cegah Malaria dan DBD dengan Fogging

"Bahkan,kalau di puskesmas ,petugas tidak menunggu kasus, tapi selalu melakukan deteksi dini dan apabila ditemukan maka langsung diobati," ujarnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oby Lewanmeru)

Penulis: Oby Lewanmeru
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved