Banjir Bandang Adonara

Ibu Hamil dan Anak-anak Korban Bencana di Adonara Sedang Kesulitan

sebanyak 56 orang dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan satunya dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian. 

Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG.COM/ISTIMEWA
Kondisi warga korban bencana banjir bandang di Desa Nelelamadike 

Ibu Hamil dan Anak-anak Korban Bencana di Adonara Sedang Kesulitan

POS-KUPANG.COM|ADONARA-- Sudah seminggu badai banjir bandang menerjang Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Dari tiga kecamatan terparah, Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng merupakan desa dengan jumlah jiwa terbanyak. 

Saat ini, sebanyak 56 orang dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan satunya dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian. 

Untuk menangani warga terdampak, pemerintah setempat telah membangun beberapa posko di wilayah tersebut, termasuk di desa-desa tetangga. 

Baca juga: Ibunya di Malaysia, Begini Kisah Fania Gendong Adiknya Saat Banjir di Pulau Adonara Flores Timur

Kepala Desa Lamalaka Atas, Ignasius Apolonaris mengatakan desa Lamalaka termasuk menampung 462 warga korban banjir bandang dari Desa Nelelamadike. 462 warga itu, ditampung di dua lokasi yakni, kantor desa dan gedung sekolah dasar

"Sebagian di kantor desa dan sebagian di sekolah. Tapi dapur umumnya satu saja," ujarnya kepada wartawan, Senin 12 April 2021. 

Baca juga: Ratusan Hektar Sawah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur - NTT Rusak Diterjang Banjir Bandang

Ia mengaku, kebutuhan logistik bagi warga pengungsi sudah maksimal, namun kebutuhan untuk ibu hamil dan anak-anak masih sangat terbatas. Di lokasi itu, 462 pengungsi pun hanya menggunakan satu MCK. 

"Kalau soal logistik sudah maksimal, tetapi soal kebutuhan bayi, ibu hamil dan tempat penampungan air masih terbatas. Air banyak tapi tempat penampungan hanya satu saja," katanya. 

Selain itu, kata dia, warga juga masih kekurangan tempat masak bagi 462 warga di posko pengungsian. 

Baca juga: Korban Bencana di Adonara Kedinginan, Butuh Kasur dan Selimut

"Masak sampe 4-5 kali karena banyaknya warga. Mereka hanya makan nasi dan sayur. Sekali-kali makan ikan dengan ikan kering, itu pun kalau ada," ungkapnya. 

Ia menjelaskan, dari 462 warga ada lima ibu hamil dan 60-70 anak-anak yang ditampung di posko itu. Ibu hami dan anak-anak ini, hingga kini masih kesulitan mendapatkan kebutuhan, seperti vitamin, popok dan susu. 

"Sejak ditampung, kami hanya terima uang Rp 2 juta untuk membeli kebutuhan 462 warga di posko. Sementara satu hari, empat kali makan. Kita juga harus berpikir soal ketahanan tubuh para pengungsi. Kesehatan mereka perlu diperhatikan," tandasnya.

Ia menambahkan, karena hanya satu MCK, warga harus rela antrian. Warga juga masih kekurangan kasur dan selimut. 

Baca juga: Bupati Anton : 5 Korban Hilang Banjir di Pulau Adonara Akan Tetap Dicari

"Kasur dan selimut sudah ada hanya masih kurang," katanya. 

Ia berharap kepada relawan agar langsung menyalurkan bantuan ke sasaran posko pengungsian

"Selama ini bantuan masih diditribusikan ke posko induk, sehingga menumpuk. Seharusnya langsung saja ke sasaran, tinggal dipertanggungjawabkan oleh setiap koordinator posko," tutupnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Amar Ola Keda)

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved