Breaking News:

Menulis Politik, Mencerahkan Publik

Publik patut menduga elite partai di Ende hanya memanfaatkan politik sebagai lapangan pekerjaan semata dengan strategi bisnis mutualisme

Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Menulis Politik, Mencerahkan Publik

Oleh Steph Tupeng Witin
Penulis Buku “Politik Dusta di Bilik Kuasa” (JPIC OFM Indonesia, 2018).

POS-KUPANG.COM - Diskursus tarik menarik kepentingan partai politik dalam “perebutan” kursi wakil bupati Ende yang lowong, cuma salah satu dari sekian banyak perilaku segelintir elite politik Ende yang membuat ruang publik Ende tampak kumuh, kotor, dekil, tidak segar karena tidak ada udara segar gagasan baru dari aktivitas politik rasional itu. Apalagi wajah-wajah ketua partai yang tampil di panggung politik Ende sudah uzur, miskin gagasan dengan perilaku berlepotan dugaan kasus korupsi gratifikasi PDAM Ende.

Publik patut menduga elite partai di Ende hanya memanfaatkan politik sebagai lapangan pekerjaan semata dengan strategi bisnis mutualisme: saling kelola, bila perlu dengan sadar saling peras lalu makan beramai-ramai. Herannya, selalu saja ada yang merelakan dirinya jadi tumbal “kelola” bahkan pemerasan dari sesama elite dalam gerbong gerombolan yang sama.

Latar belakang ini mesti menjadi basis untuk membaca kiblat politik khususnya dari partai koalisi dadakan yang patut diduga dibentuk hanya untuk menjalankan misi instan: mengempaskan Partai Golkar dari koalisi Marsel-Djafar.

Politik memang kotor karena politisi karbitan sering bermain di got kotor kepentingan. Tapi kita mesti sadar bahwa politik itu kerja rasional. Masa orang dengan sadar menceburkan diri dalam got yang kotor dan berlumpur? Bukankah andaikan ada “lembaran keramat” di dalam got kotor pun, pasti tidak akan pantas lagi dalam kalkulasi ekonomi?

Terkait politisasi kursi kosong wakil bupati Ende, saya menulis tiga artikel di media kesayangan orang NTT ini. Apresiasi atas gagasan itu ibarat banjir bandang yang dahsyat meski tidak kurang juga beragam kritik dari kelompok “sebelah.”

Tugas jurnalis, penulis dan sastrawan adalah bekerja untuk keabadian. “Beauty is in the eye of the beholder” kata Shakespeare. Kecantikan itu tergantung siapa yang memandang. Jika dipandang dari sudut karya kenabian (profetis) - yang harus dijalankan semua manusia berkehendak baik tanpa predikat apapun - maka tulisan kritis bahkan keras yang berupaya mengoyak tirai kebohongan kekuasaan politik memiliki misi menciptakan keadilan, kejujuran, keberanian dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kursi wakil bupati yang kosong tampak tenang. Tapi elite partai politik khususnya yang menyebut diri partai koalisi yang mengusung Erik Rede sebagai calon, tampak seperti meto yang penulis ingat keluar dari mulut Mosalaki saat advokasi kasus tanah PLTU Ropa, Ende dulu.

Meto itu ulat atau cacing yang suka bermain-main di dalam lumpur, bergerak ke sana kemari, apalagi kalau lagi kepanasan.

Halaman
1234
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved