Breaking News:

Banjir Bandang Adonara

Kades: Sebelumnya Bencana,Buat Upacara Adat Minta Maaf Kepada Leluhur, Tahun Ini Terparah di Flotim

budaya telah diselesaikan dengan mengundang para tua adat membuat upacara adat dan meminta pengampunan

POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Bupati Flotim saat mengunjungi korban bencana banjir di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, Flores Timur usai kejadian.  

Kades : Sebelumnya Bencana, Buat Upacara Adat Minta Maaf Kepada Leluhur, Tahun Ini Terparah di Flotim

POS-KUPANG.COM | LARANTUKA--Dulu 10 tahun yang lalu ada bencana banjir di Desa Nelelamadike tapi hanya kerusakan 3 rumah saja.

Bencana itu terjadi karena leluhur kami marah karena ada warga yang mengambil air di kaki Gunung Ile Boleng.

Air yang diambil itu lalu dibawa ke luar sehingga leluhur marah karena air itu tidak boleh diambil sembarang. Apalagi dibawah keluar.

Demikian penuturan Kades Nelelamadike, Pius Pedang saat dihubungi POS-KUPANG.COM dari Waiwerang, Adonara, Flores Timur,  Selasa 6  April 2021 pagi.

Ia menjelaskan, bencana 10 tahun lama yang terjadi karena ada warga yang melanggar budaya telah diselesaikan dengan mengundang para tua adat membuat upacara adat dan meminta pengampunan kepada leluhur.

Baca juga: Korban Jiwa Banjir Bandang dan Longsor di Adonara Flores Timur, 62 Meninggal Dunia 4 Masih Hilang

Baca juga: Kades Nelelamadike Kabupaten Flores Timur : Warga Saya Tidak Ada Yang Berani Tidur di Rumah

"Kami masih percaya dengan tradisi dan leluhur kami.Maka itu, ketika habis bencana kami gelar upacara adat karena warga yang mengambil air di kaki gunung datang mengaku kepada tua adat. Tradisi dan budaya kami sangat jaga. Air di kaki gunung itu tidak boleh diambil warga dan siapapun.Air itu ada di kaki gunung yang tetap ada sepanjang masa," ujar Kades Pius.

Apakah bencana banjir di Nelelamadike pun karena ada warga melanggar budaya atau mengambil air di Kaki Gunung Ile Boleng, Kades Pius menegaskan, ia sendiri belum tahu karena tidak ada warga yang datang mengaku kalau telah melanggar tradisi.

"Kami memang belum berpikir ke arah sana tapi kami percaya kepada leluhur kami. Leluhur kami pasti marah karena ada yang melanggar tapi untuk bencana tahun ini kami akan undang tua adat buat upacara adat minta maaf kepada leluhur. Kalau ada langgar tradisi ambil air pasti kami buat acara adat. Kenapa kami harus buat acara adat karena 10 tahun lalu pernah ada banjir karena ada warga mengaku mengambil air di kaki gunung. Air itu diambil lalu dibawa keluar. Kami yang tinggal di kampung ini tidak boleh ambil air itu sehingga kami akan duduk bersama tua adat mencaritahu kenapa ada banjir lalu menewaskan warga sangat banyak," ujarnya.

Baca juga: Wabup Agustinus Boli: 63 Warga Desa Nelelamadike Kabupaten Flores Timur Tewas Tertimbun Longsor

Ia mengatakan, bencana tahun ini merusak rumah warga dan menewaskan 54 orang serta dua orang masih dinyatakan hilang.

"Banjir tahun ini paling parah dan banyak korban.10 tahun lalu hanya 3 rumah saja yang rusak tapi tahun ini banyak rumah hilang dan rusak berat," paparnya.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu)

Berita Banjir Bandang Adonara

Penulis: Aris Ninu
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved