Breaking News:

Opini Pos Kupang

Terorisme, Perekonomian dan Pariwisata Kita

Fenomena ekstremisme terus menjadi masalah pelik dalam kebijakan keamanan kita karena bahaya besar manifestasi kekerasan dalam bentuk terorisme

Editor: Kanis Jehola
Terorisme, Perekonomian dan Pariwisata Kita
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Meski angka kasus kematian menurun dampak ekonomi dan sosialnya justru masih tetap meluas dan dalam. Tindakan teror merugikan ekonomi global dengan perkiraan konservatif lebih dari $ 34 miliar pada tahun 2018.

Korelasi antara terorisme dan ekonomi telah dijelaskan oleh banyak sarjana, studi model evaluasi kerentanan serangan teroris (TAVE-Model) yang dilakukan oleh Estrada, Park, Kim, & Khan (2015) di Pakistan, misalnya, menjelaskan pengaruh yang signifikan antara tindakan teror terhadap kerusakan ekonomi dan kebocoran ekonomi total negara.

Studi lain yang dilakukan oleh Sekrafi, Abid, &Assidi (2020) di Afrika yang mengkaji dampak serangan teroris terhadap perekonomian formal dan informal di 47 negara Afrika selama periode 1996-2015 menunjukkan tindakan teroris berpengaruh negatif terhadap ekonomi formal.

Selain itu, dijelaskan, dibandingkan dengan terorisme domestik, terorisme transnasional berdampak lebih signifikan dan negatif pada perekonomian formal. Dan kita tahu, saat ini, tindakan teror di Indonesia berafiliasi sangat jelas dengan organisasi terorisme transnasional, sehingga ancaman terhadap ekonomi kita sebagai akibat tindakan teror sangatlah besar.

Kondisi ini harus menjadi perhatian kita bersama, konsekuensi ekonomi yang merugikan sebagai dampak tindakan teror dapat memengaruhi individu dan masyarakat. Biaya ekonomi langsung dari terorisme dapat diukur dari nilai nyawa yang hilang, kecacatan yang diakibatkan oleh cedera, dan penghancuran properti pribadi dan publik.

Kekerasan yang bersumber dari terorisme dan ketakutan akan terorisme menciptakan gangguan ekonomi yang signifikan. Ketakutan akan terorisme mengubah perilaku ekonomi, terutama dengan mengubah pola investasi dan konsumsi serta mengalihkan sumber daya publik dan swasta dari kegiatan produktif dan menujulangkah-langkah perlindungan.

Di Indonesia terorisme tidak selalu berdampak negatif terhadap sejumlah indikator perekonomian. Ambil contoh nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang begitu rentan terhadap sentimen negatif maupun positif investor asing dan dalam negeri.

Setelah peristiwa Bom Bali I dan Bom Bali II, pembukaan perdagangan, IHSG memang dibuka melemah selepas kabar aksi teror mengemuka. Namun, dalam penutupan perdagangan, IHSG ditutup melemah tipis, bahkan menguat. Begitu juga pada terorisme berikut, yaitu Bom Thamrin, Bom Solo, dan Bom Surabaya. Semua itu menunjukkan pasar saham relati faman.

Kondisi ekonomi yang stabil pasca serangan teror bukan berartidi Indonesia masalah teror tidak berpengaruh terhadap ekonomi. Terorisme dan pengaruh terhadap ekonomi Indonesia tetap harus dicermati. Selain penguatan dari sisi keamanan dalam negeri, upaya-upaya multilateral dengan berbagai negara di kawasan perlu diperkuat. Sebab ancaman itu ada.

Sebagai misal, studi yang dilakukan oleh Gaibulloev dan Sandler (2009) mempelajari dampak ekonomi terorisme di 42 negara Asia menjabarkan dampak ekonomi akibat teror jauh lebih kecil di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved