Eko Kuntadhi Soroti FPI, Dulu Ormas Sweeping, Sekarang Jadi Organisasi Teroris Terbesar di Indonesia
Eko Kunthadi, seorang pegiat media sosial, memberikan sorotan tajam terhadap organisasi masyarakat (ormas) FPI yang telah dibubarkan pemerintah.
POS-KUPANG.COM, JAKARTA -- Eko Kunthadi, seorang Pegiat Media Sosial, memberikan sorotan tajam terhadap organisasi masyarakat (ormas) FPI yang telah dibubarkan pemerintah.
Meski ormas tersebut telah dilarang di Indonesia, tetapi 'ajarannya' justeru semakin menyata di Tanah Air.
Kalau dulu FPI itu sebagai ormas yang sibuk melakukan sweeping. Tetapi sekarang, perannya yang terbina sejak lama, telah menjadikan FPI sebagai ormas teroris terbesar di Indonesia.
Pernyataan Eko Kuntadhi tersebut, tentunya mengejutkan publik yang berada di negeri rayuan pulau kelapa ini.
Ako Kunthadi lantas menghubungkan sejumlah aksi teroris yang terjadi belakangan ini dengan ormas yang telah dibubarkan oleh pemerintah itu.
Dalam channel Youtube Cokro TV, Eko Kuntadhi awalnya membahas terkait aksi teror berupa bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu 28 Maret 2021 dan aksi teror di Mabes Polri Jakarta.
Eko Kunthadi menganalisa tentang keterkaitan terduga teroris itu dengan organisasi teroris internasional lainnya, yakni ISIS.
Merurutnya, dari pola gerakan dan teror yang dilakukan, para pelaku lebih berafiliasi kepada organisasi Islamic State ketimbang Al Qaedah.
"Kalau melihat gerakannya, kedua pelaku di Makassar dan di Mabes Polri mereka berafilisasi ke ISIS. Cirinya mudah, teror mereka dilakukan secara serampangan, cuma modal nekat dan melibatkan perempuan."
Sementara teror gaya Al Qaedah biasanya dilakukan dengan perencanaan secara matang dan bisa menyebabkan korban jiwa yang jauh lebih besar.
Untuk melakukannya juga butuh dana yang besar, dilakukan kelompok besar dan terstruktur. Contohnya Bom Bali dan bom JW Marriot," terangnya.
Eko kemudian membahas soal sikap Habib Rizieq Shihab dalam menghadapi persidangan online yang digelar Pengadilan Negeri jakarta Timur belakangan ini.
Seperti diketahui, Muhammad Habib Rizieq dan pengacaranya sempat menolak sidang dilakukan secara daring.
Bahkan, Habib Rizieq memilih bungkam dan walk out dari persidangan yang sempat digelar secara online tersebut.
Eko menilai, sikap penolakan habib Rizieq di pengadilan tersebut menjadi semacam seruan kepada pengikutnya untuk melakukan aksi.
"Dengan berulah aneh-aneh, Rizieq seperti memanggil kelompok bar-bar yang memang ada di Indonesia untuk melancarkan serangan."
