Breaking News:

Koalisi Abal-abal Rusakkan Demokrasi Ende

Kita menduga, “politik menelikung” dijadikan tembok untuk menutup ruang kemungkinan hadirnya calon wakil bupati yang memiliki kualitas

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Koalisi Abal-abal Rusakkan Demokrasi Ende

Oleh Steph Tupeng Witin
Penulis Buku “Politik Dusta di Bilik Kuasa” (JPIC OFM 2018)

POS-KUPANG.COM - Diskursus terkait “tarik tambang” kepentingan perebutan kursi wakil bupati Ende telah menjadi sebuah fakta sandiwara politik yang menggelikan kewarasan ruang publik Ende. Setiap kita, entah politisi, aktivis politik, aktivis HAM, tokoh agama, rohaniwan atau apa sebutan mentereng lain, mesti terlibat dan melibatkan diri dalam diskursus ini karena menyangkut hak hidup ratusan ribu rakyat.

Publik Ende telah lama gerah dengan ulah dan perilaku para elite partai politik dalam koalisi Marsel-Djafar (MJ) yang begitu leluasa mengumbar hasrat politik bercabang kepentingan pragmatis yang terbaca melalui gerakan “politik menelikung” berkiblat: mematikan langkah kader yang berintegritas, memiliki pengalaman sepak terjang pengabdian kepada rakyat dengan leadership yang mumpuni dan kehadiran sangat kontekstual karena menjawabi tuntutan kepemimpinan saat ini: Covid 19.

Kita menduga, “politik menelikung” dijadikan tembok untuk menutup ruang kemungkinan hadirnya calon wakil bupati yang memiliki kualitas, moral dan kapasitas yang sangat jauh melampaui calon yang diusung hasil “politik menelikung.”

Koalisi ini pantas disebut abal-abal karena semua opini, gerakan “politik menelikung” dan pergerakan kelam patut diduga hanya mengakomodasi calon yang seirama dan sejalan dengan hasrat politik. Koalisi 6 parpol ini tampak gelisah dengan kehadiran calon wakil bupati yang dihadirkan Partai Golkar.

Pantat koalisi 6 partai ini seperti dilas besi panas merah. Pertemuan demi pertemuan dikendalikan oleh Feri Taso yang patut diduga berperan sebagai otak di balik keruntuhan koalisi Marsel-Djafar.

Nama Feri Taso, Heri Wadhi dan Erik Rede bukan nama yang asing dalam permainan politik Ende. Tiga nama ini pun terekam abadi dalam prasasti kasus dugaan korupsi gratifikasi PDAM Ende. Publik Ende tidak boleh pernah melupakan fakta sejarah memalukan ini.

Alur pencalonan jelas: DPP mengusulkan nama ke Koalisi MJ lalu koalisi mendiskusikan 2 nama untuk dibawa ke Bupati Ende yang akhirnya menyerahkan dua nama itu ke DPRD untuk dipilih. DPP Golkar usulkan Domi Mere dan Heri Wadhi. Representasi internal Golkar dan apresiasi atas suara publik Ende.

Pertanyaan muncul: apakah partai koalisi lain bisa usulkan nama? Bisa saja, kalau ada mental aji mumpung mau berkuasa, tapi nama itu diusulkan DPP ke Koalisi MJ. Partai koalisi lain, kalau sadar diri dan tahu malu, mestinya ini peluang Partai Golkar.

Baca juga: Menyoal Kekosongan Wakil Bupati Ende

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved