Bisnis Hidroponik, Modal Awal Mulai Rp1,5 Juta, Kualitas Tanaman Lebih Bagus
sistem hidroponik juga tengah digeluti sebagai bisnis rumahan. Berapakah modal yang dibutuhkan untuk memulai hidroponik?
Penulis: F Mariana Nuka | Editor: Rosalina Woso
Bisnis Hidroponik, Modal Awal Mulai Rp1,5 Juta, Kualitas Tanaman Lebih Bagus
POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Budidaya hidroponik kian digemari saat pandemi Covid-19. Tak sekadar hobi, menanam dengan sistem hidroponik juga tengah digeluti sebagai bisnis rumahan. Berapakah modal yang dibutuhkan untuk memulai hidroponik?
Pemilik Hydrofarm Koepang, Arief Wahyudi mengungkapkan, biaya investasi untuk memulai budidaya hidroponik fleksibel, tergantung pada biaya yang disiapkan. Untuk skala rumahan, modal awal yang dibutuhkan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Nantinya, instalasi itu menggunakan pipa paralon. Jika ingin jangka panjang, sisi estetika bagus, dan perawatan mudah, maka bisa menggunakan instalasi gully.
"Gully di Kupang belum ada yang jual; beli dari Jawa atau pesan online dikirim ke sini. Itu masa pakai bisa sampai delapan tahun. Pemeliharaannya juga mudah, tutupnya bisa dibuka ketika pembersihan," kata Arief yang juga menjabat sebagai AN REVASS di PLN UIW NTT ini kepada POS-KUPANG.COM, Senin (15/3/2021).
Jenis sayur-sayuran yang bisa diaplikasikan dengan sistem hidroponik diantaranya tanaman hortikultura, seperti sayur sawi, kangkung, selada, buah melon, semangka, mentimun, tomat, paprika, cabai, dan terong. Beberapa temannya telah menjual sayur mayur hidroponik untuk kelas menengah ke atas, seperti restoran, kafe, bahkan hotel.
"Untuk Kupang sendiri, kita belum bisa penuhi demand. Memang tinggi (demand), tapi produksi masih terbatas. Ya kendalanya itu sistem yang dibangun teman-teman di Kupang belum begitu banyak. Lalu, ada pola tanam juga," ucap dia.
Pola tanam berkaitan dengan jumlah lubang tanam (instalasi yang dipunya). Dia memberi contoh, ada 1000 lubang tanam. Apabila ingin memanen seminggu sekali, maka 1000 lubang tanam itu tidak boleh digunakan semua, melainkan 25-50 persen saja.
Arief menambahkan, perbandingan harga antara sayur hidroponik dan sayur konvensional relatif. Artinya, secara kualitas, sayur hidroponik lebih segar, bersih, dan bobotnya lebih besar.
"Misalnya selada konvensional di pasar itu kemarin satu ikat isi dua sampai tiga pohon harganya Rp5 ribu. Nah, teman-teman menjual dengan satu pohon Rp5 ribu. Orang membandingkan, dari sisi harga, konvensional dapat tiga, hidroponik dapat satu. Tapi perbandingannya, yang hidroponik itu bobotnya lebih besar. Selada kalau dihidroponik dan masa tanamnya bisa dimaksimalkan 42-45 hari, bobotnya bisa sampai 250 gram per pohon. Jadi bentuknya besar. Rasa pahitnya juga tidak ada karena dari sisi pemberian unsur hara/nutrisi itu terukur," jelasnya.
"Saya pernah hitung-hitungan untuk Selada, keuntungan bersih saja sudah dikurangi biaya listrik, air, tenaga kerja satu orang, dan lain-lain, kurang lebih bisa capai angka 200 persen," tambahnya.
Salah satu faktor yang mendukung keberhasilan tananam hidroponik itu adalah penggunaan lampu UV untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Dengan adanya lampu UV, masa tanam bisa dipercepat. Jika masa tanam adalah 40 hari dan penggunaan lampu UV bisa memajukan lima hari menjadi 35 hari untuk dipanen dengan berat yang sama dan penanaman normal, maka biaya produksi bisa dikurangi. Selain itu, apabila musim hujan atau mendung, lampu UV dapat digunakan agar pertumbuhan tanaman tidak melambat.
Satu lampu UV 50 Watt dipakai untuk radius pencahayaan luasan dua meter persegi dengan ketinggian lampu satu setengah meter. Jarak ke tanaman diperpendek, agar kekuatan cahaya lampu bisa dirasakan oleh tanaman. Tanaman tidak butuh terangnya, tapi UV A dan UV B untuk fotosintesis tanaman.
"Jadi mempersingkat masa tanam (mempercepat produksi) dan proses pertumbuhan maksimal," tandasnya.
Manager Sub Bagian Strategi Pemasaran PLN UIW NTT, Wawang Wiratama menambahkan, PLN turut ambil bagian mendorong sektor pertanian untuk tetap bertahan di tengah situasi pandemi. Alih-alih menggunakan genset dengan solar yang mahal untuk mengairi sawah, PLN menghadirkan program Electrifying Agriculture. Dalam program itu, listrik digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk dengan sistem hidroponik.
Wawang menerangkan, dalam sistem hidroponik yang lebih modern, listrik melalui penggunaan lampu UV ini digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman menjadi lebih bagus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/tanaman-yang-dibudidayakan-dengan-sistem-hidroponik.jpg)