Breaking News:

Paus Fransiskus ke Irak, Kunjungi Lokasi Bekas Pembantaian Warga Kristen: Ada Harapan Rekonsiliasi

Sri Paus Fransiskus siap mengakhiri masa 15 bulan tanpa perjalanan internasional, dengan rencana kunjungan ke Irak, mulai Jumat 5 Maret 2021

AP/Carolyn Kaster
Dalam file foto Kamis 24 September 2015 ini, Paus Fransiskus berpidato di pertemuan gabungan Kongres di Capitol Hill di Washington, membuat sejarah sebagai Paus pertama yang melakukannya. Mendengarkan di belakang Paus adalah Wakil Presiden Joe Biden dan Ketua DPR John Boehner dari Ohio. 

Paus Fransiskus ke Irak, Kunjungi Lokasi Bekas Pembantaian Warga Kristen: Ada Harapan Rekonsiliasi

POS-KUPANG.COM, VATICAN CITY - Sri Paus Fransiskus siap mengakhiri masa 15 bulan tanpa perjalanan internasional, dengan rencana kunjungan ke Irak, mulai Jumat 5 Maret 2021, yang dipastikan akan menjadi sebuah kunjungan bersejarah.

Ini merupakan kunjungan ke luar negeri pertamanya dalam 16 bulan, aktivitas yang terhenti karena pandemi virus corona.

Paus yang berusia 84 tahun dan telah divaksinasi Covid-19 ini tampaknya berniat untuk melanjutkan rencana perjalanannya, meskipun pandemi masih berlangsung dan kekhawatiran mengenai masalah keamanan terus membayangi.

Alasan utama Paus Fransiskus berkunjung ke Irak adalah untuk menyemangati warga Kristen di negara itu. Umat Kristen Irak selama puluhan tahun menghadapi diskriminasi dari warga Muslim, sebelum mereka juga menghadapi persekusi dari kelompok ISIS sejak 2014.

Warga Kristen Irak menganggap kunjungan bersejarah Paus itu sebagai pesan harapan, rekonsiliasi, hidup rukun berdampingan dengan umat agama lain, dan sebagai cara untuk membangun kembali Irak.

“Kunjungan ini memberi kami harapan untuk tetap berpegang pada tanah dan negara kami, terlepas dari penderitaan yang kami alami, pembunuhan, penculikan, pembantaian terhadap warga Kristen dan gereja-gereja, pencurian properti milik warga Kristen yang masih terus berlangsung hingga hari ini."

"Tetapi, kunjungan ini akan mendorong banyak di antara warga Kristen kami di luar negeri untuk optimistis dan memiliki harapan bahwa mereka akan dapat kembali," kata Aklas Bahnam, seorang warga Kristen Irak.

“Kunjungan Paus merupakan undangan bagi semua partai politik untuk keluar dari jubah fanatisme, Chauvinisme dan permusuhan, serta upaya untuk mencari kesamaan elemen-elemen bagi rekonsiliasi, hidup berdampingan secara rukun dan mencapai pembangunan di Irak," tambah suami Bahnam, Dr. Hakmet Dawood, seorang pensiunan pegawai pemerintah.

Sejak invasi ke Irak yang dipimpin AS pada 2003, warga Kristen kerap menjadi target serangan kelompok ekstremis. Komunitas Kristen di Irak, Asiria, Armenia, Khaldea, Protestan, dan juga Yazidi telah menjadi sasaran langsung sewaktu ISIS menyapu bagian utara dan barat negara itu, meneror masyarakat dan memaksa puluhan ribu orang melarikan diri ke negara-negara barat, negara-negara tetangga, atau ke wilayah Kurdi di bagian utara Irak.

Halaman
123
Editor: Agustinus Sape
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved