Breaking News:

Opini

Kemiskinan di NTT dan Gereja yang Terlibat 

Hingga kini total penduduk miskin di NTT menjadi 1.173.530 jiwa. Peningkatan angka kemiskinan ini terjadi di tengah pandemi COVID-19.

Editor: Agustinus Sape
Facebook/Milin Kowa
Milin Kowa 

Menanggapi realitas kemiskinan di NTT, imbauan Paus menjadi imperatif kategoris bagi karya pastoral gereja di NTT. Gereja melalui keterlibatannya mesti memberdayakan dan membebaskan orang-orang miskin.

Gereja pertama-tama bukan hanya dipanggil untuk berada dan berurusan dengan praktik ritual semata. Lebih dalam, Gereja harus terlibat dalam penderitaan (kemiskinan) umat-nya.

Tentang hal ini, ada dua hal yang ditawarkan penulis bagi Gereja di NTT. Pertama, Gereja sebagai lembaga yang menyuarakan suara mayoritas orang miskin. Dengan menyuarakan jeritan orang miskin, Gereja menyadarkan bahwa orang miskin merupakan fakta yang tidak terelakkan dan yang membutuhkan pembebasan.

Melalui surat gembalanya atau seruan profetis, Gereja mesti mengajak semua pihak untuk membangun rasa solider dan peduli terhadap kehidupan sesamanya yang menderita di tengah masa sulit ini.

Yang kedua, Gereja adalah Gereja kaum miskin. Dengan menjadi Gereja kaum miskin, Gereja ikut merasakan dan membela nasib kaum miskin. Hal ini bisa dilakukan Gereja dengan memberikan pelatihan atau pendidikan kewirausahaan kepada masyarakat kecil agar mereka mampu menciptakan sesuatu dan bersaing.

Melalui kedua aksi ini, Gereja menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat kecil terutama rakyat NTT yang tersalib.*

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved