Breaking News:

Opini

From Desa for Deus

Penulis berpendapat bahwa Visi dan Misi kepemimpinan Paket Desa akan tercapai bila mengandalkan "Deus" dalam berkarya.

Editor: Agustinus Sape
Foto pribadi
Apolonius Anas 

From Desa for Deus (Membaca Spirit Kepemimpinan David dan Eusebius)

Oleh Apolonius Anas

Direktur Lembaga Bimbingan Kursus dan Pelatihan U-Genius Kefamenanu

POS-KUPANG.COM - "Saya datang ke sini bukan untuk "balas dendam" tetapi untuk rekonsiliasi". Inilah pernyataan yang disampaikan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) David Juandi saat sidak di RSUD Kefamenanu di hari pertama pasca pelantikannya.

Ia menyampaikan hal itu di hadapan para dokter, perawat dan semua pegawai di RSUD Kefamenanu 01/03/2021. Saat itu ia ingin memastikan RSUD Kefamenanu tetap mengedepankan pelayanan yang prima bagi semua lapisan masyarakat TTU sembari memperjuangkan kekurangan yang ada di RSUD Kefamenanu di masa kepemimpinannya.

Tawaran rekonsiliasi perlu disampaikan David mengingat di masa lalu "balas dendam" telah membudaya di TTU. Setelah proses politik usai, bupati dan wakil bupati suka membawa data ke mana-mana. Data itu didapat dari para mata-mata. Dan aksi mata-mata atau spionase serasa lumrah dalam proses pilkada di TTU. Data itu berisi list nama aparatur sipil negara dan tenaga kontrak yang berbeda haluan politik dalam pilkada.

Nama-nama yang ada dalam list kemudian tinggal menanti waktu untuk dipindahkan atau yang paling sadis dinonjobkan. Momentum sidak perdana bupati terpilih, bagi para aparatur sipil negara yang berbeda haluan politik bisa dianggap sebagai kesempatan membaca tanda, didepak atau didapuk oleh sang bupati. Dipindahkan ke sudut kampung atau dinonjobkan.

Sebab fakta menunjukkan bahwa hal memindahkan dan atau menonjobkan seseorang di masa lalu memang dirasa pilu dan tersiksa oleh aparatur sipil negara dan tenaga kontrak yang ada di TTU. Alasan dan basis argumentasi rasional menonjobkan atau memutasi seseorang sama sekali tidak masuk akal dan melanggar prosedur hukum yang berlaku.

Di antara ASN yang dimutasi atau dinonjobkan itu adalah putra-putri terbaik TTU. Mereka punya jiwa membangun yang tinggi. Ada rasa memiliki TTU tetapi rasa itu tidak tersampaikan. Mereka tentu mampu membaca visi pembangunan dan mengenal strategi terbaik membangun TTU. Herannya putra-putri daerah TTU yang punya kapasitas dan rekam jejak bagus untuk memecahkan persoalan TTU "dibuang atau didepak" begitu saja ke sudut kampung.

Belum lagi upaya klandestin memberangus harga diri yang bersangkutan melalui "political pressure" yang menjadi jadi.
Adanya hasutan dari orang dekat bupati semakin memperuncing prangai sang bupati untuk bertindak di luar nilai dan nalar perikemanusiaan. Hasil dari perilaku politik demikian memang nyata tidak berdampak signifikan bagi kehidupan masyarakat dan pembangunan di TTU mulai dari ibu kotanya yang masih berwajah lama hingga ke pelosok kampung yang apa adanya saja dalam beberapa tahun terakhir.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved