Breaking News:

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik, Selasa 23 Februari 2021: MOMEN MENATA HATI

Kata "bertele-tele", dalam bahasa Yunani “Battologeo”, artinya omongan yang tidak berguna, omong kosong, mengoceh,

Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik, Selasa 23 Februari 2021: MOMEN MENATA HATI (Matius 6:7-15)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - Kata "bertele-tele", dalam bahasa Yunani “Battologeo”, artinya omongan yang tidak berguna, omong kosong, mengoceh, mengeluh dan omongan yang berulang ulang. Dalam konteks bahasa Indonesia, artinya kurang lebih sama, yakni bercakap-cakap tidak jelas ujung pangkalnya, melantur-lantur, berlarut-larut.

Kalau begitu, doa yang bertele-tele dapatlah dimengerti sebagai doa yang hanya berisi omongan kosong atau mengeluh dan mengoceh saja di hadapan Tuhan.

Kenapa kepada para murid-Nya, Yesus menasihati, "... dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata, doanya akan dikabulkan" (Mat 6:7).

Zaman Yesus, para pengikut-Nya terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi, yang sebelumnya kafir. Orang kafir ini menyembah dewa-dewa. Mereka tidak mengenal Allah yang esa.

Para dewa ini diyakini kadang-kadang tidur, kadang-kadang bepergian jauh, mabuk, dan sebagainya. Mengingat "kebiasaan buruk" para dewa ini, maka orang kafir suka berdoa lama sekali. Alasannya, karena dewa harus dirayu, dibujuk, supaya sudi bangun dan membantu mereka.

Pengikut Yesus yang tadinya kafir, tidak mudah melepaskan pemikiran dan kebiasaannya yang lama. Mereka pun cenderung berdoa lama; menggunakan kata-kata yang indah.

Nah ... untuk mengingatkan para murid-Nya inilah, Yesus menasihati agar jangan berdoa bertele-tele. Dalam berdoa, yang paling penting itu bukan kata-kata dan caranya berdoa, melainkan sikap batin yang menjiwai dalam berdoa.

Yang penting bukannya metode, melainkan doa itu sendiri. Seseorang bisa menjadi ahli, fasih dalam segala hal yang berkaitan dengan doa, tetapi ia mungkin saja tidak berdoa.

Allah bukanlah pembesar yang perlu disanjung-sanjung, dibujuk-rayu, bahkan disogok. Bukankah Allah itu mahabaik? Allah bukanlah seseorang yang dapat ditekan, diintimidasi dengan doa yang bertele-tele. Bukankah Allah itu mengenal setiap orang sedalam-dalamnya? "Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Mat 6:8), demikian tandas Yesus.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved