Breaking News:

Ratusan Babi Terserang ASF di Kabupaten Mabar, Kadis PKH Sebut Peternak Harus Terapkan Biosekuriti 

wabah ini belum berakhir, kalaupun tidak ada kematian ternak di wilayah itu, jangan anggap sepele, bio security harga wajib

Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/GECIO VIANA
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Mabar, drh. Theresia P. Asmon saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (18/2/2021).  

Ratusan Babi Terserang ASF di Kabupaten Mabar, Kadis PKH Sebut Peternak Harus Terapkan Biosekuriti 

POS-KUPANG.COM | LABUAN BAJO - Sebanyak 746 kematian babi karena terserang Virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Kamis (18/2/2021).

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kabupaten Mabar, drh. Theresia P. Asmon mengatakan, para peternak wajib menerapkan biosekuriti demi mencegah penyebaran ASF.

"Hal yang perlu kami ingatkan, wabah ini belum berakhir, kalaupun tidak ada kematian ternak di wilayah itu, jangan anggap sepele, bio security harga wajib diterapkan, tidak boleh tidak," katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

Langkah biosekuriti pada peternakan rakyat diantaranya, melakukan perlakuan pakan sisa terlebih dahulu direbus dengan suhu 90 derajat selama 1 jam. Lalu, membatasi lalu lintas seperti orang, alat angkut, babi atau bibit babi, peralatan kandang dan vektor. 

Selain itu penting juga yang melakukan sanitasi dan desinfeksi dengan ganti baju, ganti sepatu serta cuci tangan dan disinfeksi.

Menurut Asmon, tingginya penyebaran virus ASF di daerah itu karena, di mana masih terdapat lalulintas orang atau daging babi antar wilayah.

"Virus ASF belum ada obat maupun vaksin, kewaspadaan itu wajib, karena wilayah ini sudah tertular, wilayah lain tidak ada kasus harus waspada. Biosekuriti itu ibaratnya protokol kesehatan yang wajib dijalankan," tegasnya.

Selama ini, lanjut dia, intervensi yang dilakukan pemerintah adalah gencar melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi.

Selain itu, berbekal anggaran yang ada dilakukan pembelian desinfektan, vitamin dan obat cacing untuk peningkatan kesehatan babi.

"Obat yang kami beli itu oral semua, agar mengurangi lalulintas orang. Jadi, kalau ada peternak yang masih berternak, laporkan sehingga diberikan desinfektan dan obat serta vitamin," katanya.

Diakuinya, pemberian obat dan vaksin sebelumnya dilakukan secara injeksi, namun untuk mengurangi kontak dengan ternak babi, maka diberikan obat oral agat peternak selanjutnya memberikannya kepada babi yang dipeliharanya.

"Kami berharap dapat support anggaran untuk vitamin oral, minimal membantu mengubah pola pemeliharaan ternak di masyarakat," katanya.

Langkah selanjutnya yang akan diambil adalah bekerja sama dengan pihak gereja agar secara bersama melakukan pelatihan pembuatan pakan dan melakukan sosialisasi serta edukasi terkait penanganan virus ASF.

Lengkapi P19, Penyidik Kirim Berkas 2 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Landscape Kantor Bupati TTS

Pemkab Sikka Dapat Bantuan 1 Unit Flexible Tank dari BPBD Provinsi NTT

Pemda Ende Target Maret Produksi 30 Ton Pellet, Inovasi yang Diapresiasi Kemendagri

Pihaknya berharap agar peternak segera melaporkan jika terjadi kematian babi secara mendadak agar segera dilakukan observasi.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved