Breaking News:

Opini

Agama, Interupsi di Tengah Bencana

Teolog politik berkebangsaan Jerman Johann Baptist Metz mengemukakan sebuah definisi tentang agama yang mungkin paling singkat untuk sebuah kenyataan

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Majalah Tempo edisi 25-31 Januari 2021 dalam covernya menampilkan wajah salah satu anggota DPR RI PDIP asal Dapil NTT dengan tajuk “Bancakan Bansos Banteng” yang merekam jejak Ketua Komisi Hukum DPR Herman Heri dalam perkara korupsi dana bantuan sosial. Seperi biasa Herman Heri membantahnya.

Kaum elite politik dan birokrasi sepertinya tidak lelah mencuri harapan masa depan rakyat kecil. Mereka terus saja bersekutu jahat meletakkan beban penderitaan berat di atas pundak para petani miskin, nelayan sederhana, buruh kasar dan gelandangan. Jabatan yang dimiliki memungkinkan mereka menguasai sumber-sumber daya politik, ekonomi dan sosial lalu menempatkan rakyat kecil sekadar gerombolan anonim yang mesti dikuasai, terdegradasi menjadi sekadar angka dalam kalkulasi politik dan statistik ekonomi, bahkan menjadi objek dalam rekayasa proyek ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang sarat dengan kepentingan bisnis.

Orang-orang kecil ini, oleh karena ketakberdayaan dalam segala dimensi hidup, akhirnya hanya pasrah dan menerima fakta bahwa bencana yang terus terulang dengan intensitas yang kian tinggi karena kerakusan mengeksploitasi alam, kekecewaan karena janji politik yang tidak pernah terealisasi dalam kebijakan konkret dan ketidakadilan yang tidak pernah kunjung menemukan titik terang, adalah sesuatu yang niscaya, yang mesti terjadi dan harus diterima.  

Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa cukup sering agama ditempatkan sebagai “barang suci” tanpa pernah bersentuhan dengan realitas kehidupan manusia. Agama hanya menjadi pusat aktivitas ritual kudus bagi pemeluknya untuk mendapatkan jatah tiket ke surga tapi abai untuk melibatkan diri dalam perjuangan hidup di tengah kerasnya badai persaingan dan deraan bencana alam.

Ukuran yang dipakai adalah seberapa sering masuk rumah ibadah, mengikuti ibadah dengan khusyuk dan bermeditasi sembari mengimpikan sebuah langit hidup baru sebagai pelarian dari keruwetan perjuangan hidup di tengah dunia sambil mendengarkan khotbah pemuka agama yang berapi-api seolah baru turun dari langit.

Meminjam celoteh dagelan Tengku Zulkarnaen, mereka baru bertemu dengan ribuan bidadari. Mungkin karena mimpi itu maka khotbah pemuka agama luntang-lantung tak karuan yang semakin menidurkan pendengarnya di dalam rumah ibadah. Umat lupa segala-galanya, termasuk wajah sang pengkhotbah.

Tenda Bela Rasa

Di tengah kenyataan seperti yang digambarkan di atas, definisi agama yang disampaikan Metz menjadi lonceng peringatan bagi semua pemeluk agama untuk berhenti, memberi tempat pada ruang batin dan mengambil sikap baru. Saatnya semua pemeluk agama membenahi kesadarannya agar menjadi agen perubahan yang menyadarkan manusia untuk berbalik dari ketersesatan jalan.

Saatnya manusia berhenti dari logika sistem ekonomi, politik dan budaya yang menumbalkan sesama yang kecil, lemah dan terpinggirkan. Agama mesti menginspirasi manusia agar memutus mata rantai kekerasan dan menyalakan harapan di tengah realitas hidup yang kelam.

Agama mesti menginterupsi manusia agar peka membaca tanda-tanda alam, kreatif menggagas solusi keselamatan dan berhenti mengeksploitasi alam dengan rakus yang berdaya membuka gerbang penderitaan manusia lebih besar, lebar dan dalam lagi di masa depan.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved