Breaking News:

Opini

Agama, Interupsi di Tengah Bencana

Teolog politik berkebangsaan Jerman Johann Baptist Metz mengemukakan sebuah definisi tentang agama yang mungkin paling singkat untuk sebuah kenyataan

Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Agama, Interupsi di Tengah Bencana

Oleh Steph Tupeng Witin

Penulis, Jurnalis, Perintis Oring Literasi di Lembata

POS-KUPANG.COM - Teolog politik berkebangsaan Jerman Johann Baptist Metz mengemukakan sebuah definisi tentang agama yang mungkin paling singkat untuk sebuah kenyataan yang sangat kompleks ini. Ia menulis: “Religion ist Unterbrechung. Agama adalah penghentian atau interupsi. Beragama atau lebih tepat beriman berarti membuat pemberhentian (Budi Kleden, 2010: 164). Muncul pertanyaan yang menggugat: mengapa agama mesti berhenti?

Sejarah agama-agama identik dengan kesetiaan dalam tradisi (Latin: traditio: diteruskan) dan keyakinan tak terhapuskan sejarah terkait kesetiaan Allah menyertai sejarah hidup manusia dalam lintasan waktu. Semua agama meyakini hal ini. Namun di sisi yang lain, pengalaman manusia juga membuktikan bahwa bahaya paling besar dan bencana yang menghantui manusia untuk bergerak menuju perubahan adalah pembiasaan (habituasi).

Menurut Eko Endarmoko, pembiasaan adalah sebuah proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses yang berulang-ulang, baik dilakukan secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri (Eko Endarmoko, 2006:85).   

Di satu sisi, pembiasaan ini memaksa manusia untuk beradaptasi, yang menjadi salah satu keunggulannya sebagai binatang berakal budi. Adaptasi bernilai positif sepanjang tidak membawa dampak dan risiko lebih dahsyat lagi yaitu hilangnya harapan dan kemauan untuk berubah.

Tapi di sisi lain, pembiasaan ini bisa membuat manusia enggan berpikir kreatif, mencari alternatif untuk berubah, keluar dari pembiasaannya, karena telanjur merasa nyaman di dalamnya. Dia akan melanjutkan kebiasaannya, melaksanakan pekerjaannya dengan pola pikir bahwa realitas alam dan manusia di sekitarnya tidak berubah, seperti dirinya.  Ia seolah menutup mata bahwa kebiasaan yang dihidupi itu menimbulkan perubahan drastis yang mesti dialami orang lain, bahkan menjadikan orang lain tumbal dari padanya (Budi Kleden, 2010: 165).  

Banyak orang di planet ini memakai sistem sosial, politik dan ekonomi, baik pada tataran lokal, nasional dan global untuk mengabadikan pembiasaannya. Politisi berselingkuh dengan kapitalis menyusupkan nafsu mengeksploitasi alam melalui proses pembuatan undang-undang yang memungkinkan penghancuran kawasan hutan lindung.

Pejabat di Kementerian Kelautan dan Perikanan memelopori pembuatan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan ekspor benur ke luar negeri dengan iming-iming bagi jatah korupsi. Pejabat Kementerian Sosial dan beberapa wakil rakyat di Senayan beramai-ramai “memakan” dana Bansos yang menjadi hak rakyat miskin tanpa risih.

Halaman
123
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved