Breaking News:

Opini

Dosa Ekologis Butuh Pertobatan Ekologis

“Tinggalkan dosa ekologis, terapkan pembangunan berkelanjutan. Mari ciptakan keadilan ekologis, agar bumi jadi rumah yang nyaman

Youtube/SCARIEST Natural Disasters Caught on Video - Part 1
Ilustrasi bencana banjir. 

Dosa Ekologis, Butuh Pertobatan Ekologis

Oleh: Febry Suryanto, Tinggal di Unit Mikhael Ledalero

POS-KUPANG.COM - “Tinggalkan dosa ekologis, terapkan pembangunan berkelanjutan. Mari ciptakan keadilan ekologis, agar bumi jadi rumah yang nyaman bagi ekosistem dan generasi masa depan”. Demikian pernyataan brilian seorang politikus sekaligus anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ansy Lema pada laman Facebook-nya beberapa hari yang lalu. Pernyataan imperatif ini tentu tidak terlepas dari fenomena alam yang akhir-akhir ini menjadi perhatian banyak orang seperti masalah banjir, tanah longsor dan lain-lain. Fenomena-fenomena alam yang krusial ini menuntut semua orang untuk menumbuhkan kembali kesadaran kolektif akan pentingnya keutuhan ekologi.

Ekologi merupakan tatanan relasi antara manusia dan alam ciptaan. Ada hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam di sekitarnya (lingkungannya). Keutuhan ekologi menjadi begitu penting untuk dijaga dan dilestarikan karena eksistensinya yang langsung berhubungan dengan hajat hidup manusia. Wacana ekologi pun menjadi topik yang dipergunjingkan akhir-akhir ini karena manusia tidak lagi peduli pada keseimbangan ekosistem. Hal ini berdampak pada masalah-masalah yang merugikan manusia sendiri seperti bencana alam, musim yang tidak lagi menentu, dan sebagainya

Dampak-dampak tersebut di atas menjadi fakta yang tak dapat lagi disangkal. Ia berpengaruh pada keutuhan ekologis sehingga ada benarnya apa yang dikatakan Charles Reich, dari semua perubahan yang terjadi pada manusia, yang paling menyedihkan adalah manusia telah kehilangan tanah, udara, tetumbuhan, dan pengetahuan tentang tubuhnya sendiri yang berasal dari alam. Keserakahan manusia telah mengakibatkan semesta menuju kehancuran. Kehancuran tatanan ekologi sebenarnya merupakan akumulasi krisis multi-perspektif, yang tak pernah sanggup diatasi oleh manusia. Barangkali inilah yang disebut dosa ekologis seperti pernyataan Ansy Lema di atas.

Manusia Jatuh dalam Dosa Ekologis

Dalam kisah penciptaan, Allah mempercayakan dunia ini kepada manusia sebagai pelayan-Nya, tetapi karena dosa manusia menyerobot dan merampas sumber-sumber alam di bumi. Tujuan penciptaan manusia untuk memuliakan Allah melalui tugas menatalayani, yaitu memerintah dan memelihara alam secara bebas dan bertanggung jawab. Namun, karena keserakahannya manusia menyalahgunakan tanggung jawabnya itu untuk kepentingan diri sendiri.

Penggunaan kekuasaan manusia yang rakus atas alam adalah kegagalan yang bersumber dari dosa manusia bukan dari maksud Allah dalam ciptaan. Perlakuan destruktif-eksploitatif manusia terhadap lingkungan bersumber dari kegagalan manusia memenuhi tugas panggilannya yang disebabkan karena manusia jatuh ke dalam dosa, yakni memberontak melawan Allah yang didorong oleh ambisi dan kerakusannya akan kuasa dan kemewahan (Silva Ngahu dalam Jurnal Teologi Kristen, Juli 2020).

Menanggapi berbagai persoalan ekologis tersebut, penulis membaca bahwa jatuhnya manusia ke dalam dosa ekologis adalah karena minimnya nalar kritis dan kurang selektif mengkaji dampak-dampak kerusakan alam. Hal ini dinamakan matinya etika dan sikap kritis manusia. Kurangnya etika dan sikap kritis ini cenderung membawa masyarakat pada apa yang pernah ditulis Murray Bookchin, bahwa kita terbelenggu oleh rutinitas yang menindas, represi yang melumpuhkan dan ketidakamanan, dari beban kerja keras dan kebutuhan palsu, dari tipu daya otoritas dan paksaan irasional (Bookchin, 2018:34). Bookchin menegaskan fakta visioner, bahwa perlu melihat jauh ke depan; bukan memakai logika kapitalis yang mau menguasai alam.

Kita boleh sangat bangga dengan kemajuan peradaban manusia modern yang telah menciptakan revolusi sains dan teknologi super canggih. Betapa pun pesatnya pencapaian ini, selalu ada ketimpangan ekologis yang tak kalah dahsyatnya. Akibat penggunaan teknologi dan sains yang agresif atas nama kemajuan, manusia justru mengalienasi lestarinya sumber daya bumi dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya. Manusia menjadi serakah dan menganggap diri sebagai tuan atas bumi, tanpa rasa tanggung jawab.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved