Dinas Peternakan Lembata Catat Total Kerugian Akibat ASF Miliaran Rupiah
Pihak Dinas Peternakan Lembata mencatat total kerugian akibat serangan virus babi Afrika ( African Swine Fever) mencapai Miliaran Rupiah
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Pihak Dinas Peternakan Kabupaten Lembata mencatat total kerugian akibat serangan virus babi Afrika ( African Swine Fever) mencapai Miliaran Rupiah.
Hingga akhir Januari 2021, masih banyak bangkai babi yang dikuburkan di lokasi pekuburan massal babi yang disiapkan Dinas Peternakan Kabupaten Lembata di Lamahora, Kota Lewoleba.
Koordinator Pekuburan Massal Babi Irenius Ola Sabon menyebutkan pihaknya selalu mencatat setiap bangkai babi milik warga yang dibawa untuk dikuburkan di sana.
Baca juga: Terkonfirmasi Positif Covid-19, Wali Kota Kupang dalam Keadaan Prima
Hingga Minggu kemarin, total sudah 708 ekor bangkai babi yang dikuburkan di sana. Namun sebelum ada pekuburan massal tersebut, Dinas Peternakan Kabupaten Lembata juga sudah mencatat sekitar 425 ekor babi milik warga yang mati akibat diserang ASF. Rata-rata babi yang mati itu jika dijual minimal seharga Rp 3,5 juta.
Jadi, menurut Iren, total kerugian akibat wabah ini sudah mencapai miliaran rupiah. Jumlah babi yang mati tentu lebih dari yang tercatat, sebab banyak babi milik warga Lewoleba yang mati dan dikuburkan secara mandiri.
Baca juga: Bantu Abu Janda, Ikatan Aktivis 98 Kerahkan 1.000 Pengacara
Setiap hari menurut Iren, rata-rata bangkai babi yang dikuburkan berjumlah 30 ekor babi.
"Kami anggap babi yang mati masih tinggi karena yang dikubur di sini juga banyak," ungkap Iren didampingi Sekretaris Dinas Peternakan Gaspar Lazaren saat ditemui di lokasi pekuburan massal Lamahora, Minggu (31/1/2021).
Menurut Iren, setiap hari ada 15 orang petugas dari Dinas Peternakan Kabupaten Lembata dan tiga dokter hewan yang bertugas mengubur bangkai babi di sana.
Puluhan jasad babi itu diikat lalu dikubur dengan satu alat eksavator.
Dia mengimbau kepada masyarakat yang ternak babinya masih sehat supaya memisahkan babi yang sehat dan yang sudah sakit. Warga juga bisa mengubur bangkai babi secara mandiri dengan lubang galian minimal dua meter.
Menurut dia, secara teknis belum bisa diprediksi sampai kapan wabah babi ini berakhir. Musababnya, virus ini baru bisa lenyap sepenuhnya kalau sudah menyerang 100 persen populasi babi di suatu wilayah. Apalagi, sampai saat ini belum ada obat atau vaksin untuk membasmi virus babi Afrika tersebut.
"Ini babi yang kedua mati. Minggu lalu saya bawa satu ekor sedang bunting. Hari ini satu ekor lagi. Saya bawa ke sini supaya di kuburkan dengan baik dan aman. Karena kami sendiri tidak mampu gali lubang dalam dan aman," ujar Elisabet Dona, warga Eropaun, Kelurahan Lewoleba, saat mengantar bangkai babinya ke lokasi penguburan masal ternak itu.
Dia menyampaikan terimakasih kepada Pemkab Lembata yang menyiapkan lokasi penguburan massal ternak babi. Lokasi tersebut sangat membantu peternak yang kewalahan menghalau wabah virus ASF kali ini. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)