Ratu Azia di Belu Bersuara Lagi Menuntut Keadilan, Ini Pemicunya
Ratu Azia Borromeu, anak dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo bersuara lagi tuntut keadilan
POS-KUPANG.COM | ATAMBUA - Ratu Azia Borromeu, anak dari Raja Alexandrino Borromeu selaku Tokoh Apodeti Penandatanganan Petisi Balibo bersuara lagi tuntut keadilan dari Pemerintah Indonesia.
Pasalnya, Pemerintah Indonesia masih melupakan para tokoh-tokoh Apodeti yang biasa dikenal Pejuang 75. Sejarah perjuang Apodeti seolah-olah ditenggelamkan sehingga perhatian Pemerintah Indonesia hanya terkosentrasi pada pejuang 99 sedangkan pejuang 75 belum diberi perhatian sama sekali.
Hal ini yang membuat Ratu Azia bersuara lagi bahkan lebih lantang lagi. Sebelum Ratu Azia sempat coolling down karena sudah ada informasi dari Pemerinta Indonesia siap memperhatikan nasib mereka.
Namun perhatian yang diberikan pemerintah belum kepada pejuang 75. Para Pejuang 75 seolah-olah dilupakan atau diabaikan.
Baca juga: 1.445 Tenaga Kesehatan & 10 Pejabat Publik di Matim Akan Disuntik Vaksin Covid-19 Pertama
Ratu Azia Borromeu mengungkapkan hal ini ketika menghubungi Pos Kupang.Com, Senin (18/1/2021). Menurut Ratu Azia, Minggu (18/1/2021), para perintis Apodeti yakni pejuang 75 berkumpul di tenda darurat tempat Ratu Azia tinggal yang berada Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Pertemuan para perintis Apodeti bertujuan meluruskan sejarah perjuangan tahun 1974 dan 1975 dalam membela NKRI yang dipelori Raja Alexandrino Borromeu, ayah kandung Ratu Azia.
Dalam pertemuan tersebut, kata Ratu Azia, mereka menuntut keadilan dari Pemerintah Indonesia supaya memberikan perhatian kepada mereka sebagai generasi dari para tokoh pejuang 75. Selain itu, meminta perhatian Pemerintah Indonesia untuk memindahkan jasad sang Proklamator dan Permaisuri ke Taman Makam Pahlawan di Atambua.
Baca juga: Terminal Kota Bajawa Tak Terurus
Menurut Ratu Azia, perjuangan mereka tidak akan pernah berhenti sampai Pemerintah Indonesia memberikan perhatian kepada pejuang 75. Sejak lama generasi pejuang 75 ini berjuang menuntut keadilan namun belum terjawab.
Katanya, Juli 2019 merupakan babak baru perjuang mereka menuntut keadilan. Saat itu Ratu Azia bersama sejumlah warga mengungsi dari Sukabitetek ke lokasi baru di Desa Rimbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Ratu Azia Borromeu rela tinggal di tenda darurat karena ketiadaan rumah.
Kondisi kehidupan anak dari Raja Alexandrino Borromeu dan Permaisuri Maria Sequiera da Carvalho Borromeu ini menjadi perbincangan publik dan terdengar sampai ke telinga pejabat negara di Jakarta. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan Keamanan merespon aksi nekat tinggal di tenda darurat itu dan Pemerintah Indonesia berjanji memberikan perhatian. Jawaban Pemerintah Indonesia terhadap tuntutan itu sekitar Desember 2020.
Namun, perhatian yang diberikan pemerintah belum kepada pejuang 75. Pejuang 75 nyaris diabaikan. Oleh karenanya, Ratu Azia berjuang lagi sampai Pemerintah Indonesia memperhatikan seluruh rakyat eks Timor Timur 13 kabupaten di dalam NKRI yang diterlantarkan selama 21 tahun.
Ratu Azia menambahkan, sekitar 25 Januari 2021, ia akan dikunjungi teman dari Kerajaan Aceh termasuk mantan panglima GAM Aceh. Mereka akan mendatangi tenda darurat tempat Ratu Azia tinggal.
"Saya juga tgl 25 ini akan kedatangan Teman dari Kerajaan Aceh bersama Mantan Panglima GAM Aceh dan10 org ke Lokai Tenda Darurat Ratu Azia Borromeu untuk melihat sendiri penderitaan Ratu Azia bersama para rakyat-rakyatnya 13 kabupaten yang masih menderita di dalam NKRI", pungkas Ratu Azia. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Teni Jenahas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ratu-azia-di-belu-bersuara-lagi-menuntut-keadilan-ini-pemicunya.jpg)