Refleksi Akhir Tahun 2020: Harapan

Tuhan tidak pernah tidur. Gusti Mboten Sare. Kita tetap satu walau terpisah. Kita tetap melangkah meski di jalan berbeda. Selamat Tahun Baru 2021

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Steph Tupeng Witin 

Refleksi Akhir Tahun 2020: Harapan

Oleh: Steph Tupeng Witin

Jurnalis, Penulis, Pegiat Literasi

KITA berdiri di penghujung tahun. 2020. Hari ke-366. Kita menunggu gerakan waktu dari detik, menit, jam dan hari. Di antara ruas-ruas waktu, jiwa seakan membeku dalam tanya: kapan waktu akan berakhir? Cakrawala makin rendah. Matahari 2020 akan sebentar lagi tenggelam. Dan malam akan habis. Kalender Desember dirobek. Di antara dentuman terompet yang merobek keheningan dan tembakan kembang api yang mengotori langit, kita merangkak menuju dini hari dengan dicegat pertanyaan: apa yang akan datang? Siapa yang bakal hadir? Apakah langit jagat masih bersahabat dengan pandemi Covid-19? Siapa lagi yang bakal jadi tumbal waktu yang kejam? Akankah vaksin menghadirkan mukjizat akan sebuah hidup yang tenang di tengah represi ketakutan pandemi yang akut?  

Tahun 2020 menjadi waktu terburuk sepanjang sejarah peradaban. Andaikan ia sebuah film, akan ditinggalkan segera. Sepanjang tahun ini, perahu dunia ini terombang-ambing di tengah lautan pandemi Covid-19. Sebuah virus yang teramat kecil, tidak tampak pada mata manusiawi kita tapi sangat menggoncangkan peradaban. Usia manusia seolah di ujung tebing curam. Dia tidak kenal diskriminasi soal kaya atau miskin. Malah yang selama ini bangga sebagai orang kaya, punya uang simpan di banyak tempat, hidup bergelimang mewah, tidak berkutik saat mulut dan hidung ditutup benda mirip kaca yang menyesakkan pernapasan. Kita saksikan kota-kota lengang. Ruang-ruang publik sepi. Gereja-gereja kosong. Kalaupun ada, pasti berjarak.

Aneh juga bahwa di rumah bersatu tapi di ruang publik, pisah. Rupanya di rumah virus hilang saat bersatu. Semua orang terkurung di rumah. Dalam tanya gelisah: sampai di mana virus ini? Orang jadi curiga satu sama lain. Baju, celana, kaus kaki, sepatu, masker ditakuti. Tetangga dijauhi. Tamu tidak digubris. Orang baru sadar: kesehatan itu penting. Cuci tangan itu urgen. Jaga jarak dan pakai masker tidak boleh dilalaikan. Memang, kesadaran akan selalu hadir di tengah prahara, kadang terlambat tapi masih jauh lebih baik terlambat ketimbang tidak tahu apa-apa atau pura-pura hilang kesadaran lalu tiba-tiba saja ambulans meraung membawa pergi sosok manusia tanpa penghormatan terakhir. Kita seakan jadi sosok asing dengan tatapan hampa dari jarak jauh ketika orang-orang dekat hanya mampu diraungi ambulans. Tanpa tangis dan air mata kemanusiaan. Tanpa doa dari hati yang patah.

Meski hidup terasa di ujung pedang, berdasarkan data hingga Rabu (30/12/2020), kasus Covid-19 di negeri ini mencapai angka 727 ribu kasus, sembuh 597 ribu kasus dan meninggal dunia 21.703 kasus (Kompas 30/12/2020). Total kasus itu tidak sekadar angka mati tapi nyawa manusia. Gerakan dari total kasus, angka kesembuhan dan total angka kematian, muncul harapan bahwa badai pandemi ini bisa teratasi. Nyawa manusia masih sangat berharga. Ketimbang menjadi bulan-bulanan tumbal pandemi virus Covid-19. Sedahsyat apa pun bencana, Tuhan memberi kita kemampuan untuk mengatasinya. Adagium klasik berlaku: Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan yang melampaui kekuatan kapasitas kita. Persoalannya adalah apakah kita sadar dan terbuka menyiapkan ruang dalam batin kita agar rahmat-Nya bisa terekspresi? Tuhan selalu aktif. Kita, manusia kadang pongah di tengah keterbatasan. Padahal menurut Kitab Mazmur, kita cuma sebutir debu di tangan kemahakuasaan-Nya yang kapan saja bisa diterbangkan angin kalau Tuhan mau.

Kondisi pandemi saat ini membutuhkan orang beriman, bukan sekadar orang beragama. Orang beriman akan peka dengan realitas dan tidak pernah tanggal diam, masa bodoh apalagi pura-pura hilang kesadaran mencari solusi untuk menenun kembali hidup yang diporakporandakan virus jahanam ini. Orang beriman tidak pernah meremehkan fakta kelam sekalipun. Justru di tengah lautan kekelaman, orang beriman mesti tampil sebagai cahaya yang mampu mencahayai realitas agar membuka mata kesadaran orang lain, betapa pun kecil. Cuci tangan lebih kerap, jaga jarak, tetap akrab dengan masker, terdengar sepele tapi berisiko dahsyat: tidak hanya diri kita tapi orang lain. Kesadaran ini adalah bagian utuh dari iman. Ketakutan pasti akan hadir. Tapi iman akan Dia yang setia akan mengubah segala ketidakmungkinan dalam kekuasaan otak manusia yang terbatas menjadi kemungkinan yang terbuka bersama Dia yang tidak berbatas.

Inspirasi Natal

Natal yang kita rayakan pada setiap Desember yang oleh Goenawan Mohamad dilukiskan sebagai “menunggu sesuatu, seseorang yang bakal datang” bisa memberi inspirasi untuk menyegarkan kesadaran kita. Yesus lahir dalam bahasa sahaja agar menerobos masuk dalam lintasan sejarah dengan mengisi ruas-ruas waktu: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun hidup kita. Allah yang Agung menjelma menjadi sosok sederhana Yesus yang dikelilingi oleh suasana, tempat dan orang-orang kecil-sederhana. Sabda Allah itu telah menjadi daging: menyerupai kita, cahaya yang menerangi kegelapan dunia hati kita.

Di tengah kegelapan Betlehem, simbol perahu dunia yang tengah dirundung kekelaman akibat pandemi global ini, telah terbit cahaya. Bahasa kesahajaan Natal inilah yang mesti menginspirasi kita untuk tetap teguh melangkah. Inilah harapan bagi kita: dalam situasi hidup gelap sekalipun, terang itu akan menemukan ruang kesejatiannya. Natal mengingatkan kita: betapa dalam dan menakjubkan ketika Yang Suci masuk merasuk ke dalam hidup sehari-hari dan Yang Kekal menepi laku temporal (GoenawanMohamad, 2005:101). Kesadaran akan muncul. Optimisme terbit. Lalu memacu kaki untuk terus melangkah menuju pagi hari baru, meski dengan pertanyaan yang tidak pernah akan pergi: apa yang akan terjadi? Siapa lagi yang akan menjadi “aku yang lain?”

Politik Harapan

Tahun pasti berganti. Angka berubah. Tapi waktu dan tempat, mungkin juga orang-orang, tetap sama. Pergantian waktu melampaui perubahan angka. Ada hasrat, gairah, tenaga yang tetap bergelora. Karut-marut politik, hujan diskriminasi, fitnah, intoleransi, kekerasan yang setia merebak, mungkin akan berhenti sejenak saat malam 2020 mengelupas hari baru 2021, tapi boleh jadi akan tetap hadir, mungkin dengan wajah yang baru. Harapan akan sebuah realitas politik baru mesti mengokohkan komitmen kebangsaan kita untuk merawat bangsa ini.

Saatnya mengubah kata-kata kita menjadi tindakan konkret. Orang Latin bilang: verba movent exempla trahunt. Kata-kata menggerakkan tapi teladan hidup jauh lebih menarik. Jagat politik disesaki hasrat segelintir elite yang lebih doyan kekuasaan daripada cinta. Obsesi kepemimpinan mesti berubah: dari cinta kekuasaan (the love of power) menuju kekuasaan untuk mencintai (the power to love). Semua anak bangsa mesti bersinergi dalam partisipasi menuju kesejahteraan bersama (bonum commune). Kekuatan cinta yang kita rajut bersama akan menghasilkan energi dahsyat untuk mengadang, melawan dan melenyapkan tantangan sedahsyat pandemi ini. Politik harapan inilah yang meneguhkan optimisme kita memasuki tahun baru 2021 yang teramat panjang: 12 bulan, 365 hari, 8.783 jam, 527.030 menit. Tuhan tidak pernah tidur. Gusti Mboten Sare. Kita tetap satu walau terpisah. Kita tetap melangkah meski di jalan berbeda. Selamat Datang Tahun Baru 2021.*

Baca juga: Renungan Akhir Tahun 2020 Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Kamis 31 Desember 2020: Relasi

Baca juga: 50 Ucapan Selamat Tahun Baru 2021 unutk Keluarga dan Kerabat! Berupa Doa, Kata Mutiara, dan Harapan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved