Parodi Situasi
Parodi situasi Minggu 27 Desember 2020: Sajak Akhir Tahun
"Apa judul yang cocok untuk menutup tahun ini?" "Corona, Covid-19, hoax, pilkada NTT, atau natal yang damai?"
POS-KUPANG.COM - "Apa judul yang cocok untuk menutup tahun ini?"
"Corona, Covid-19, hoax, pilkada NTT, atau natal yang damai?"
"Akhirnya Kupang ke zona hitam."
"Air mancur menari di Bundaran PU."
"Oh, sebaiknya tetap pakai masker."
"New normal atau normal yang baru!"
***
Akhir tahun 2020 adalah momen yang pas untuk melihat kembali secara reflektif apa saja yang sudah terjadi sepanjang tahun 2020 ini. Ada banyak hal yang terjadi. Tahun 2020 begitu melelahkan dengan kejutan demi kejutan yang membuat pikiran sakit hati pun sakit.
Baca juga: Gracia Indri: Kado Terindah
"Yang tepat memang corona, covid 19, Kupang zona hitam, dan sebaiknya tetap pakai masker. Bagaimana caranya agar digabung dalam satu judul yang tepat," kata Jaki.
"Itu sudah biasa. Semua kita sudah pada tahu. Isinya pasti itu-itu saja. Kepedulian terhadap pandemi covid ini maju mundur, jatuh bangun, suka-suka saja, tidak penting, bukan hal yang mencemaskan, dan berbagai alasan lain membuat covid jadi biasa-biasa saja!" sambung Rara.
"Tetapi Kupang zona hitam!" sambar Jaki dengan cepat. "Menurut informasi yang saya dengar. Zona hitam artinya sudah terjadi transmisi lokal, angka positif meningkat tajam, dan siapa pun bisa terkena virus dan positif covid."
Baca juga: Kapolres Nugroho: Masyarakat Manggarai Timur Tidak Boleh Pesta dan Konvoi Untuk Tahun Baru
"Terus mau buat apa? Mau buat aturan baru? Emang lu sape!" Rara sambar dengan logat Jakarta. Maklum baru saja Jaki pulang dari Jakarta ada tugas kantor. Lumayan tugas akhir tahun, bisa jalan-jalan ke Jakarta.
***
"New normal.normal baru. Tema yang cocok!" kata Nona Mia. "Langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan covid 19 dan corona serta segala hal yang berkaitan di dalamnya. "Judulnya Sajak Akhir Tahun."
"Apa isinya?" tanya Jaki dan Rara bersamaan.
"Pertama, berdoa," Benza yang menjawab. "Ketakutan pada zona hitam yang melanda kota kita kini. Apa yang akan terjadi jika jumlah korban bertambah dan terus bertambah? Rumah Sakit penuh, dokter dan paramedis terkena, petugas kesehatan kurang. Apa yang mesti kita lakukan? Kita mesti bagaimana?"
"Jangan buru-buru berdoa," sambung Jaki. "Kalau positif covid segera ke rumah sakit, minta petunjuk, minta obat, dan pulang ke rumahmu. Isolasi mandiri. Urusan selesai."
"Isolasi mandiri katamu?" tanya Nona Mia.
"Ya Nona Mia. Isolasi mandiri yang paling tepat. Urus diri sendiri. Dengan tetap memperhatikan protap hindari kejangkit covid. Masker, cuci tangan, jaga jarak! Begitu," sambung Rara dengan enteng. "Cara tergampang agar zona hitam menghilang."
***
"Isolasi mandiri katamu?" tanya Benza setelah melihat Nona Mia terdiam menarik nafas panjang. "Itu pikiran yang paling pendek. Solusi yang paling mengerikan bagi warga masyarakat kita yang rata-rata orang biasa," Benza menahan nafas sejenak. "Lihat tetangga kita! Apakah bapa keluarga mau pulang dari RS untuk isolasi mandiri? Sementara dirinya belum yakin dan belum tahu pasti sudah benar-benar negatif atau tidak."
"Memang tetangga kita yang kepala batu! Jaga diri di rumah apa susahnya?" sambung Jaki.
"Jaki! Yang tinggal dalam rumah tetangga ada tiga keluarga. Rumah kecil dengan satu kamar mandi. Air susah dan mesti datangkan tangki air dua minggu sekali. Bagaimana bisa isolasi mandiri? Yang terjadi adalah tetangga bawa virus dan peluang menular sangat besar. Lain dengan kamu Jaki Rara. Kamu punya rumah besar dengan banyak kamar dan kamar mandi di setiap kamar. Tidak ada masalah dengan isolasi mandiri kalau kamu positif covid," kata Benza dengan tenang.
"Oh, begitu kah?" kata Jaki. "Programnya memang demikian. Kalau sudah 14 hari boleh pulang dan isolasi mandiri.ternyata susah sekali. Jadi kita mesti bagaimana?"
***
"Entah bagaimana caranya agar rantai penularan segera diputus. Sudah sukar sekali untuk hentikan bencana ini. Kecuali anti virus sudah tersedia. selebihnya kita akan saksikan bagaimana zona hitam akan bertambah kelam," kata Nona Mia dengan sedih.
"Terus kita mesti bagaimana?" keluh Jaki dan Rara hampir bersamaan.
"Ceritakan khabar baik," jawab Nona Mia dan dengan segera memberi penjelasan sebelum kedua temannya itu bertanya lagi.
"Kabar baik tentang apa saja termasuk covid 19. Katakan saja kabar baik tentang apa artinya masker, cuci tangan, jaga jarak, tunda pesta, dan kisah-kisah tentang keberhasilan, kisah tentang normal baru. Covid ada dan hadapi itu dengan protap yang tetap dan tegas. Jangan kita putar putar aturan turut suka."
"Apa lagi?"
"Merenung!" Benza yang menjawab. "Cobalah diam, tenang, merenung, berterima kasih, dan bersyukur atas semua kebaikan yang diperoleh melalui saudara, keluarga, kenalan, dan siapa saja! Itulah yang perlu dilakukan pada akhir tahun menuju awal 2021, termasuk berdoa."
"Berdoa, membawa kabar baik, dan merenung adalah tiga cara terbaik," kata Nona Mia yang beberapa hari lalu membaca tiga hal itu.
"Selesailah sudah," Jaki dan Rara mengamininya dengan sinis. Maklumlah rencana pesta pora pada akhir tahun tidak bisa dilaksanakan gara-gara covid. Sudah begitu masih pula dapat ceramah dari Nona Mia dan Benza.
***
"Sajak akhir tahun.doa, kabar baik, dan renungan." Jaki dan Rara mengatupkan tangan.
"Selamat tahun baru 2021."