Parodi Situasi

Parodi Situasi: Damai Pilkada Damai Natal

Ketua Tim Pemenang Pilkada sudah menyusun rencana untuk dilaksanakan dalam perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru, 01 Januari 2021

Editor: Kanis Jehola
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang 

POS-KUPANG.COM - Ketua Tim Pemenang Pilkada sudah menyusun rencana untuk dilaksanakan dalam perayaan Natal 2020 dan Tahun Baru, 01 Januari 2021. Pertama, kirim parcel terbaik dengan
ucapan damai natal kita semua bersaudara.

Kedua, kunjungi langsung lawan yang kalah sebagai ungkapan persaudaraan demi meyakinkan bahwa yang lalu ya sudah berlalu. Sekarang saatnya melihat ke depan demi kepentingan bersama.
***
"Maaf saja! Saya tidak sudi berhadapan dengan manusia sombong seperti Jaki," demikian
Rara si pemenang menolak mentah-mentah rencana ketua tim pemenang. "Saya yang menang.
Bagaimana mungkin saya yang harus lebih dulu datang."

Baca juga: Pevita Pearce: Terpapar Covid

"Hei rendah hati jangan rendah diri. Mengalah saja teman! Kalau kamu tidak mau
mengalah berarti kamu itu rendah diri bukan rendah hati. Mengalah tidak sama dengan kalah.
Buktinya? Bukankah kamu adalah pemenang?" kata ketua tim pemenang.

"Oh begitu kah?" Rara yang memang baru saja menjadi pemenang dalam pertarungan
pilkada meraba-raba dan menggaruk dagunya yang tidak gatal. Dia sedang berpikir seribu kali
untuk rendah hati ataukah rendah diri, untuk mengalah yang tidak sama dengan kalah.

Baca juga: Makin Bertambah, Ini Jumlah Pelaku Perjalanan di Kabupaten Sumba Timur

***
"Bagaimana menurut pendapatmu Benza dan Nona Mia?" Rara ingin mendapat jawaban
dari Nona Mia dan Benza tentang usul ketua tim pemenang.

"Usul yang bagus sekali. Ya, salam damai pilkada menyongsong natal dan tahun baru
bukan? Kamu memang perlu rendah hati untuk menemui pasangan yang kalah. Jiwa besar dari
calon pemimpin yang berpikiran besar. Pergilah ucapkan damai pilkada dan damai natal untuk
Jaki. Mari kita bersahabat seperti dulu. Bukankah pada dasarnya kita semua bersaudara?"

"Waktunya tidak ada. Soalnya tiap hari pesta dan pesta di sana, syukur di sini sana,
belum ditambah lagi dengan memenuhi undangan dari berbagai pihak yang mendukung
perjuangan saya untuk menang pilkada beberapa waktu lalu. Ibaratnya rasa pesta dan sukaria
belum usia dan mungkin takpernah usai untuk merayakan kemenangan ini. Jadi ya.saya lihat
waktu dulu," kembali Rara sang pemenang ini menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal.
***
Dengan tenang Nona Mia berbicara. Pertama, dia ucapkan selamat atas kemenangan Rara
yang tidak disangka-sangka. Dengan beda suara yang sangat tipis menjelaskan bahwa separuh
mendukung Rara dan separuhnya lagi mendukung Jaki. Tidak ada yang menang mutlak.

Karenanya semua pihak wajib merangkul satu sama lain untuk mulai kembali ke posisi awal agar
tidak ada kecewa apalagi dendam antara pihak-pihak yang berlawanan saat pilkada. Kedua, dia
sampaikan kepada Rara agar jangan berlebihan meluapkan kemenangan. Tentu saja Nona Mia
menyampaikan hal ini dengan memohon maaf terlebih dulu.

"Luapkan kemenangan adalah harus. Gembira dengan sedikit berlebihan adalah harus.
Kapan lagi? Lihat saja manusia-manusia yang tidak mendukung saya akan saya mutasi. Bila
perlu saya usir sampai ke kutub utara dan kutub selatan. Saya mau lihat bagaimana reaksi itu
Jaki."
***
"Rara," kata Nona Mia lagi. "Jangan berlebihan. Kenapa? Karena banyak hal yang mesti
dipertimbangkan. Sadarlah Rara. Ketahuilah. Ketika engkau sangat gembira, bahagia, evoria,
pesta pora, dan melenting bangga dengan kesuksesan kamu, pada saat yang sama ada orang lain
yang begitu sedih, menangis, tertunduk, dan diam merenung dengan rasa sakit terhadap hal yang
sama! Jaki sedang mengalami hal itu. Mungkin Jaki tidak terlalu berat merasakannya.

Akan tetapi pendukungnya, orang-orang yang dekat dengannya sedang berada dalam situasi yang sedih
luar biasa karena kalah. Jadi." kata Nona Mia sebelum mengambil nafas untuk melanjutkan
lagi.

"Apa? Oh, begitu kah?" sambar Rara.
"Tidak ada yang salah bukan?"

"Saya pikir-pikir dulu!" jawab Rara lagi. "Saya mesti bahas, diskusi, bahas lagi, diskusi
lagi. Karena menurut orang pintar yang tahu ilmu ilmu.yang ucap selamat itu harusnya ya Jaki
bukan saya. Saya ini pemenang! Bagaimana mungkin saya mesti mengalah? Itu namanya kalah!"
"Nah, itu sana Jaki dan tim suksesnya datang," kata Benza.
***
"Hai Rara! Selamat ya untuk kemenanganmu," Jaki dan rombongan lengkap masker dan
jaga jarak sesuai protap covid meletakan tangan di dada sambil menundukkan kepala. "Salam
damai pilkada. Salam damai natal. Salam sukses pada tahun 2021."

"Oh, saya baru saja akan pergi ke rumah kamu Jaki bersama Nona Mia dan Benza," kata
Rara sambil manggut-manggut khas sang pemenang.
"Salam damai persaudaraan," Jaki menunduk lagi. Rara pun melakukan hal yang sama.
Salam natal 2020 dan tahun baru 2021. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved