Residivis Kasus Bom Ikan di Kupang Kembali Diamankan Ditpolairud NTT

Residivis ini ditangkap anggota Dit Polairud Polda NTT akhir pekan lalu saat menangkap ikan menggunakan bahan peledak (bom ikan).

Penulis: Ray Rebon | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
Barang bukti yang disita oleh Dit Polair Polda NTT, Selasa (24/11). 

Residivis Kasus Bom Ikan di Kupang Kembali Diamankan Ditpolairud NTT

POS-KUPANG.COM| KUPANG-- Direktorat Polairud Polda NTT kembali mengamankan kasus pengeboman ikan di Kupang.

Residivis pelaku bom ikan berinisial YP (37), nelayan asal warga RT/RW 06/03, Desa Uiboa, Kecamatan Semau Selatan, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus berurusan lagi dengan aparat kepolisian.

Tersangka diduga melanggar pasal 84 ayat 1 JO pasal 8 ayat 1 tentang perikanan. Dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 1,2 miliar.

Residivis ini ditangkap anggota Dit Polairud Polda NTT akhir pekan lalu saat menangkap ikan menggunakan bahan peledak (bom ikan).

Awal penangkapan YP pada Jumat (23/10/2020) sekira jam 08.00 Wita oleh KPP. Timor XXII 3016 yang mendapat info dari masyarakat nelayan bahwa akan ada penangkapan ikan menggunakan bahan peledak ditanjung lay perairan semau selatan.

YP sebelumnya sudah ditangkap polisi Dit Polairud Polda NTT pada tahun 2016 yang lalu juga karena aktivitas menangkap ikan dengan bom.

Kasubdit Gakkum Dit Polairud Polda NTT, AKP Andy, SIK kepada polisi di kantornya saat mendampingi Direktur Polairud Polda NTT, Kombes pol Andreas Herry Susi Darto, SIK, Selasa (24/11/2020) mengakui kalau YP sudah pernah menjalani hukuman di Lapas Kupang setelah diputus  bersalah dalam sidang di pengadilan negeri Kupang beberapa tahun lalu.

"YP saat itu diproses hukum juga karena kasus ilegal fishing (menangkap ikan menggunakan bom ikan) serta 1 tahun dipenjara," ujarnya.

Kali ini YP ditangkap karena menangkap ikan dengan bom ikan di tanjung Lay, perairan Semau Selatan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang.
Selain menangkap YP, polisi juga mengamankan barang bukti puluhan ekor ikan salam dan ikan gargahing, botol besar dan sedang berisi pupuk warna putih, botol sedang berisi bensin.

Selain itu diamankan pula kacamata selam, 1 pasang sarung tangan, botol kaca warna coklat, 1 buah waring/jaring ikan, korek api gas dan beberapa batang rokok merk 153 dan bakul.

"Tersangka diduga melanggar pasal 84 ayat (1), jo pasal 8 ayat (1) undang-undang nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 1,2 milyar," tambahnya.

Saat diperiksa polisi, tersangka mengaku menangkap ikan dengan bom ikan agar mendapatkan hasil yang banyak.

"Dengan modal sedikit tapi mendapatkan hasil yang banyak dibandingkan dengan menangkap ikan menggunakan alat lain," ujarnya.

Hasil tangkapan ikan yang melimpah karena menggunakan bom ikan selanjutnya dijual kepada masyarakat sekitar untuk keuntungan pribadi.
Penyidik Dit Polairud Polda NTT sudah menahan YP dan menyerahkan tersangka serta barang bukti ke Kejaksaan Tinggi NTT.

"Tersangka diserahkan dari kejaksaan tinggi ke Kejaksaan negeri Oelamasi setelah berkasnya P21 atau lengkap namun pihak kejaksaan menitipkan penahanan tersangka di sel Dit Polair Polda NTT," tandasnya.

Pihaknya menyebutkan kalau saat ini marak terjadi penangkapan ikan menggunakan bom ikan yang merusak biota laut.

Baca juga: PROMO KFC Hari Ini 25 November 2020 Dapatkan Diskon 50%, 5 Potong Ayam Goreng Hanya Rp 41.818

Baca juga: UPDATE, Ini Penjelasan KPK dan Dugaan Kasus, Novel Baswedan Ikut Tangkap Menteri KKP Edhy Prabowo

Baca juga: Kalina Oktarani Akhirnya Minta Maaf & Klarifikasi soal Vicky Prasetyo Setelah Azka Curhat di Medsos

Baca juga: Ini Kegiatan yang Dilakukan Asisten Pelatih Budiman Saat Latihan Persib Libur, Simak INFO

"Kerusakan laut terutama terumbu karang disebabkan karena penggunaan bom ikan saat menangkap ikan. Padahal pertumbuhan karang hanya satu centimeter per tahun," jelas Direktur Polairud Polda NTT Kombes Pol Andreas Herry Susi Darto, SIK.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon)

Sumber: Pos Kupang
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved