Breaking News:

Opini Pos Kupang

Menjadi Bangsa Pahlawan, Bisakah?

Setiap kali kita memperingati hari-hari bersejarah, seperti Hari Pahlawan perlu kita jadikan sebagai satu kerangka acuan

Menjadi Bangsa Pahlawan, Bisakah?
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

Oleh : Frans X. Skera, Warga Kota Kupang

POS-KUPANG.COM - Setiap kali kita memperingati hari-hari bersejarah, seperti Hari Pahlawan perlu kita jadikan sebagai satu kerangka acuan guna memahami situasi masa kini, dan pedoman untuk bersikap dan bertindak di masa yang akan datang. Kata orang bijak "historia vitae magistra" yang artinya sejarah merupakan guru kehidupan.

Berbicara tentang pahlawan, rujukannya adalah Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 1964. Pahlawan dijabarkan sebagai seseorang yang semasa hidupnya sangat berjasa terhadap bangsa dan Negara yang disahkan dengan Surat Keputusan Presiden. Sesuai ketentuan ini ada dua kelompok orang yang disebut pahlawan.

Baca juga: Debat Paslon di Sumba Timur - Presenter tvOne Jadi Moderator

Pertama mereka yang telah gugur/tewas karena tindakan kepahlawanannya dan kedua mereka yang masih hidup dan telah membuktikan jasa dan pengorbanannya, dan hidup selanjutnya tak ternoda.

Sehubungan dengan judul tulisan ini, hal yang menjadi fokus perhatian adalah definisi dari dua kata kunci yang termaktub dalam makna pahlawan yaitu jasa dan pengorbanan.

Menurut Peraturan Presiden di atas, jasa diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan berguna bagi orang lain, bangsa dan negara. Sedangkan pengorbanan artinya perbuatan menantang derita bahkan maut untuk satu tujuan mulia.

Baca juga: Siaga Bencana, Polres Lembata Adakan Konsolidasi Lintas Sektor

Kita berharap agar semangat juang para pahlawan bisa menginspirasi sehingga semakin banyak warga Negara yang tergerak dan gemar melakukan perbuatan-perbuatan heroik. Harus diakui bahwa berjasa, berbuat baik dan berkorban untuk orang lain sungguh tidak mudah, namun bukan tidak mungkin.

Perbuatan bijak tidak perlu harus fantastis dan menimbulkan kekaguman. Perbuatan-perbuatan kecil, sederhana tetapi tulus yang berguna bagi orang lain adalah tindakan heroik.

Sudah lama kita mendengar "pahlawan tanpa tanda jasa" yang dialamatkan kepada para guru. Kitapun sering mendengar "pahlawan devisa" yang ditujukan pada para tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang sering mengalami penderitaan lahir batin.

Karena itu kita berharap dan berjuang agar bangsa ini bisa memproduksi lebih banyak lagi "pahlawan" di pelbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Halaman
1234
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved