Breaking News:

Salam Pos Kupang

Mencermati Target Golkar Menangkan Pilkada

Menjelang berlangsungnya Pilkada di NTT, Partai Golkar mengklaim bisa meraih 8 kemenangan dari 9 Pilkada serentak di NTT

Mencermati Target Golkar Menangkan Pilkada
Dok POS-KUPANG.COM
Logo Pos Kupang

POS-KUPANG.COM - SEBULAN menjelang akan berlangsungnya Pilkada Bupati dan Wakil Bupati di NTT, Partai Golkar mengklaim bisa meraih 8 kemenangan dari 9 Pilkada serentak di NTT. Ini terbilang target yang luar biasa dan fantastis. Artinya, kalau target ini tercapai maka dominasi partai Golkar dalam panggung politik di NTT akan sangat nampak.

Memperhatikan tentang target-target tersebut, tentu ada banyak pertanyaan. Diantaranya, apakah hitungan matematis dari Partai Golkar sehingga bisa memenangkan hampir semua pilkada di NTT? Mungkin jawabannya, Partai Golkar yakin dengan hal itu karena mungkin pengalaman selama ini di NTT seperti benar. Artinya, dahulu yang diusung Golkar pasti terpilih.

Baca juga: MAXstream Rilis Serial Horor Orisinal Terbaru Berjudul Dibalik Lubang Kunci

Tetapi konteks itu, saat pemilihan dilakukan oleh DPRD. Tetapi konteks reformasi ini, tentu hitungan matematis terkadang meleset jauh dan hasil pilkada kadang kala tidak terkira. Mengapa tidak terkira? Jawabannya sederhana. Pola pemenangan pilkada langsung sangat tidak terduga karena berdasarkan kemauan masyarakat. Masyarakat bisa saja memilih orang yang tidak didukung oleh partai besar atau partai berpengaruh. Inilah masalah yang sebenarnya.

Bicara tentang Partai Golkar dahulu sama atau identik dengan bicara tentang kemapanan dalam berpolitik. Apa kata Golkar dahulu maka akan terjadilah. Tetapi sekarang ini, sangat berbanding terbalik. Kadang-kadang penentu kemenangan tidak karena partai.

Baca juga: Menjadi Bangsa Pahlawan, Bisakah?

Tetapi kemenangan pilkada sekarang sangat bergantung pada integritas pribadi seorang bakal calon. Kalau bakal calon itu benar-benar bersih dalam karier maka kemungkinan akan terpilih sangat besar namun bisa juga hasil terbalik atau tidak seperti yang diinginkan.

Oleh karena itu, mengklaim mencapai kemenangan mayoritas seperti yang disampaikan Partai Golkar tentu saja dengan berbagai perntimbangan. Diantaranya, agar para pendukung yakin bahwa partainya masih memiliki pengaruh. Tetapi kalau nanti hanya berbanding terbalik dari harapan maka bukankah hal itu akan menjadi masalah sendiri dalam tubuh Partai Golkar.

Saat ini, kemenangan dalam Pilkada juga terkadang hanya karena faktor keuntungan belaka. Ada sementara isu yang berkembang menyebutkan, saat pilkada ada kegiatan-kegiatan yang mengarah ke politik uang.

Pola-pola yang menghalalkan segala cara ini terkadang menjadi hambatan utama dalam berdemokrasi sebenarnya. Akhirnya, hasil dari pemilihan langsung yang diduga menggunakan uang bisa saja tidak maksimal.

Kadang mereka yang justru berkantong tebal bisa menjadi pimpinan daerah sementara mereka sendiri mungkin kapasitas intelektualnya tidak memadai sama sekali. Tetapi apa hendak dikata, itulah politik di alam Demokrasi Pancasila.

Pilkada langsung sebenarnya juga secara umum tidak membahagiakan atau tidak menguntungkan masyarakat. Mengapa demikian? Kalau misalnya seseorang terpilih karena politik uang maka setelah menjadi pimpinan yang bersangkutan akan berupaya mengambil kembali uang yang pernah digelontorkannya sejak saat sosialisasi diri hingga pemilihan.

Ini sebenarnya tantangan demokrasi kita di Indonesia. Kita belum cukup kuat mengorbitkan seseorang menjadi calon Bupati atau Gubernur karena kapasitas intelektualnya. Ukuran sekarang ini, seberapa besar mahar politik akan menentukan apakan orang itu dicalonkan atau tidak. Sekarang ini, soal visi dan misi terkadang diabaikan begitu saja. Inilah persoalan kita.

Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak merefleksikan dirinya. Paling utama itu, Partai Politik. Kalau parpol sudah berjalan dalam koridor yang benar dan sempurna tanpa uang maka semua pasti akan berjalan dengan baik. Artinya, pemimpin yang berkwalitas bakal terpilih saat Pilkada langsung.

Tetapi kalau dalam diri Parpol masih ada iming-iming untuk kepentingan orang perorang maka hasilnya pun akan begitu-begitu saja.

Padahal kondisi ini sangat bertentangan dengan kemauan masyarakat. Umumnya, masyarakat mengingintkan pemimpin yang mengayomi dengan semangat membangun bukan dengan semangat untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Fakta seperti inilah yang sangat sulit dalam konteks pilkada sekarang. Orientasi dan motivasi orang menjadi seorang pemimpin tentu berbeda dengan para pendahulu kita yang benar-benar mau mengabdi untuk rakyatnya. (*)

Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved