Breaking News:

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang Minta Harus Bekerja Ekstra

Masih berperan aktif atau seperti ada dan tiada. Kepolisian juga sepertinya tidak diberikan kewenangan yang cukup.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang Minta Harus Bekerja Ekstra
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Wakil Ketua Komisi IV, Epi Seran

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang Minta Harus Bekerja Ekstra

POS-KUPANG.COM | KUPANG -- Secara fenomena khususnya warga kota Kupang sudah merasa bahwa Covid-19 ini hal yang biasa-biasa saja. Pemerintah juga adem anyem dalam menangani hal ini, tidak ada lagi operasi atau patroli, juga informqsi publik keliling, sosialisasi seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya.

"Sekarang kelihatannya kita betul-betul tidak ada apa-apa lagi. Menurut saya fonemana Covid-19 ini sudah seperti flu kapan selesainya tidak tahu. Arus masuk dan keluar di NTT mulai naik. Orang mulai perjalanan dinas dan lainnya itu beresiko. Akhirnya keluarga merasa pemerintah memberikan ini sudah terjun bebas. Sehingga kasus ini merupakan sebuah titik balik bagi kita pemerintah, secara khusus Satgas yang menangani," kata Wakil Ketua Komisi IV, DPRD Kota Kupang, Epi Seran ketika dihubungi POS-KUPANG.COM, Senin (2/11).

Ia mengaku tidak mengetahui sejauhmana peran gugus tugas sampai saat ini. Masih berperan aktif atau seperti ada dan tiada. Kepolisian juga sepertinya tidak diberikan kewenangan yang cukup.

"Kalau di Jawa TNI dan Polri langsung bersinergi mengantisipasi dan melawan serta tidak kurang beberapa orang ada yang proses pidana yang melakukan pemaksaan pulang jenazah Covid-19 di Rumah Sakit dan penghadang jenazah saat akan dimakamkan seperti di Makassar, Brebes yang kita ikuti," tuturnya.

Kasus pasien Covid-19 meninggal baru hasilnya keluar, kata Epi, ini baru pernah terjadi di kota Kupang. Kejadian ini merupakan sebuah antisipasi yang cepat, tetap dan benar. Kalau memang ternyata dicurigai dengan pendekatan medis yang prioritas baik pihak rumah sakit tempat pasien dirawat dan rumah sakit tempat pemeriksaan hasil swab menjadi titiknya persoalan.

"Ataukah komunikasi rumah sakit tidak berjalan baik atau keseriusan terhadap penanganan corona harus dipertanyakan. Ini jadi soal, orang sudah meninggal hasil swab belum keluar. Pertanyaannya waktu pasien sakit, informasi medis yang akurat atau tidak? pada rumah sakit yang mempunyai alat pemeriksaan. Jadi ini sebetulnya kelalaian dua pihak, informasi yang kurang jelas pada keluarga korban maupun penanganan hasil untuk memberikan informasi secara cepat, tepat dan benar. Ini yang tidak jalan," tukasnya.

Baca juga: UMP Tidak Naik, DPRD Sumba Timur Minta Perusahaan Hindari PHK

Baca juga: PERIKSA RAMALAN ZODIAK ANDA Hari ini, Senin 2 November 2020: Gemini Penuh Ide Bagus, Leo Kesempatan

Baca juga: Ternyata Mencegah Penyakit Ginjal Tidak Cukup Hanya Minum Air yang Cukup hingga Berhenti Merokok

Menurutnya ini sudah menjadi buah simalakama. Jadi mau menyalahkan siapa. Ini sudah terjadi maka harus cepat diselesaikan dengan melakukan pendekatan persuasif dan sedikit menekan keluarga baik dari Pemerintah, TNI/Polri, Lurah, RT sekitar untuk mengambil alih jenaazah agar dimakamkan sesuai protokol covid. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati).

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved