Fadli Zon Marah Lalu Sebut Presiden Perancis Contoh Pemimpin Negara yang Diskriminatif dan Rasis

"Ini contoh pemimpin negara yang Islamophobia diskriminatif dan rasis. Mari kita boikot produk-produk Perancis!," seru politisi Gerindra ini.

Editor: Frans Krowin
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di sela-sela acara Forum Parlemen Dunia di Bali, Kamis, (5/9/2019) 

Fadli Zon Marah Lalu Sebut Presiden Perancis Contoh Pemimpin Negara yang Diskriminatif dan Rasis

POS-KUPANG.COM - Anggota DPR RI, Fadli Zon mengajak untuk memboikot produk-produk Perancis.

Seruan itu disampaikan Fadli Zon sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai diskriminatif dan rasis.

Menurut Fadli Zon, pernyataan Presiden Perancis Macron telah melukai banyak umat Islam di seluruh dunia.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron beberapa hari terakhir memang menjadi sorotan.

Hal itu setelah Macron berjanji memerangi kelompok radikal Islam setelah pemenggalan guru sejarah pada 16 Oktober 2020 lalu.

Guru itu dipenggal setelah ia menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW kepada murid-muridnya dalam diskusi kelas tentang kebebasan berbicara.

Komentar Macron menuai protes negara-negara mayoritas Muslim.

Macron memicu kontroversi ketika dia mengatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Dirinya telah mengumumkan sebuah rencana untuk membela nilai-nilai sekuler Perancis terhadap apa yang dia sebut sebagai "radikalisme Islam".

Macron mengatakan bahwa agama Islam itu "dalam krisis" di seluruh dunia, memicu reaksi balik dari para aktivis Muslim.

Dalam pidatonya yang telah lama ditunggu pada Jumat (2/10/2020), Macron menegaskan “tidak ada konsesi” yang akan dibuat dalam upaya baru untuk mendorong agama keluar dari pendidikan dan sektor publik di Perancis.

“Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia saat ini, kami tidak hanya melihat ini di negara kami,” katanya, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (2/10/2020).

Seruan boikot produk Perancis sebelumnya juga diserukan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Sekarang saya menyerukan kepada bangsa kita, sebagaimana yang telah terjadi di Perancis untuk tidak membeli merek-merek Turki, maka saya menyerukan kepada bangsa saya di sini dan mulai sekarang: jangan perhatikan barang-barang berlabel Prancis, jangan beli barang-barang itu," tegas Erdogan dalam pidato di televisi pada Senin 26 Oktober 2020.

Presiden Erdogan juga menyerukan kepada Uni Eropa untuk membatasi hal yang disebut sebagai agenda anti-Islam yang diusung Macron.

Boikot produk Perancis sudah terjadi di beberapa negara Timur Tengah sebagai bentuk protes terhadap pembelaan Presiden Emmanuel Macron atas hak untuk menunjukkan kartun Nabi Muhammad.

Pemerintah Perancis pun telah meminta aksi pemboikotan diakhiri.

Kementerian Luar Negeri Perancis mengatakan seruan "tak berdasar" untuk boikot itu "didorong oleh kelompok minoritas radikal".

Sementara itu, aksi protes terjadi di Libia, Suriah, dan Jalur Gaza.

Reaksi negatif tersebut berasal dari komentar Macron setelah pembunuhan seorang guru Perancis yang mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas.

Sang presiden berkata guru itu, Samuel Paty, "dibunuh karena para Islamis menginginkan masa depan kami", tetapi Perancis "tidak akan menyerahkan kartun kami".

Penggambaran Nabi Muhammad dapat sangat menyinggung bagi umat Islam karena tradisi Islam secara eksplisit melarang gambar Muhammad dan Allah.

Namun sekularisme negara - atau laïcité - adalah pusat identitas nasional Perancis. Membatasi kebebasan berekspresi untuk melindungi perasaan satu komunitas tertentu, menurut negara, merusak persatuan.

Pada hari Minggu, Macron menegaskan kembali pembelaannya terhadap nilai-nilai Perancis dalam sebuah twit yang berbunyi: "Kami tidak akan menyerah, selamanya."

Para pemimpin politik di Turki dan Pakistan telah marah kepada Macron, menuduhnya tidak menghormati "kebebasan berkeyakinan" dan memarjinalkan jutaan Muslim di Perancis.

Pada hari Minggu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, untuk kedua kalinya, bahwa Macron harus melakukan "pemeriksaan mental" terkait pandangannya tentang Islam.

Komentar serupa mendorong Prancis memanggil duta besarnya untuk Turki untuk konsultasi pada hari Sabtu.

tribunnews
Presiden Perancis, Emmanuel Macron ((AFP))

Seberapa luas boikot terhadap produk Perancis?

Produk-produk Perancis diturunkan dari beberapa rak supermarket di Yordania, Qatar, dan Kuwait pada hari Minggu. Produk kecantikan dan perawatan rambut buatan Perancis, misalnya, tidak lagi dipajang.

Di Kuwait, serikat pengecer besar telah memerintahkan pemboikotan barang-barang Perancis.

Serikat Masyarakat Koperasi Konsumen, yang merupakan serikat non-pemerintah, mengatakan telah mengeluarkan arahan sebagai tanggapan atas "penghinaan berulang" terhadap Nabi Muhammad.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Perancis mengakui langkah tersebut.

Ia menulis: "Seruan untuk boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, beserta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh kelompok minoritas radikal."

Seruan boikot terhadap produk Perancis telah tersebar lewat dunia maya di negara-negara Arab.

Di dunia maya, seruan untuk boikot serupa di negara-negara Arab lainnya, seperti Arab Saudi, telah beredar.

Tagar yang menyerukan boikot jaringan supermarket Perancis, Carrefour, adalah topik paling tren kedua di Arab Saudi, ekonomi terbesar di dunia Arab.

Sementara itu, unjuk rasa anti-Prancis berskala kecil digelar di Libia, Gaza, dan Suriah utara, tempat yang dikuasai milisi yang didukung Turki.

Mengapa Perancis terlibat dalam perselisihan ini?

Pembelaan keras Macron terhadap sekularisme Perancis dan kritik terhadap Islam radikal menyusul pembunuhan Paty telah membuat marah beberapa sosok di dunia Muslim.

Presiden Erdogan bertanya dalam pidatonya: "Apa masalah individu bernama Macron dengan Islam dan Muslim?"

Sementara pemimpin Pakistan, Imran Khan menuduh sang pemimpin Prancis "menyerang Islam, jelas tanpa memahami apapun tentangnya".

"Presiden Macron telah menyerang dan melukai sentimen jutaan Muslim di Eropa dan di seluruh dunia," katanya dalam sebuah twit.

Awal bulan ini, sebelum pembunuhan sang guru, Macron mengumumkan rencana undang-undang yang lebih ketat untuk mengatasi hal yang ia sebut "separatisme Islam" di Perancis.

Ia mengatakan, kelompok minoritas Muslim di Perancis - terdiri dari kira-kira enam juta orang - berpotensi membentuk "masyarakat tandingan". Ia menggambarkan Islam sebagai agama "dalam krisis".

Di tengah serangan dari sejumlah negara, Perancis mendapat dukungan dari Jerman.

"Serangan pribadi Presiden Erdogan kepada Presiden Macron menurut saya adalah momen buruk dan tidak dapat diterima. Yang penting kami menunjukkan solidaritas kepada Perancis dalam memerangi ekstremis Islam, khususnya sesudah aksi terorisme mengerikan yang terjadi minggu lalu," kata Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas pada Senin (26/10/2020). 

(*)

Artikel ini telah tayang di tribunpontianak.co.id dengan judul Fadli Zon Ajak Boikot Produk Perancis, Macron Contoh Pemimpin Negara Diskriminatif dan Rasis, https://pontianak.tribunnews.com/2020/10/27/fadli-zon-ajak-boikot-produk-perancis-macron-contoh-pemimpin-negara-diskriminatif-dan-rasis?page=all

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved