Kematian Babi di Ende Menurun Biosecurity Mesti Tetap Dijalankan
sejak bulan Juni hingga Juli 2020, total ternak babi yang mati akibat ASF mencapai kurang lebih 1.200 ekor.
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
Kematian Babi di Ende Menurun Biosecurity Mesti Tetap Dijalankan
POS-KUPANG.COM | ENDE -- Kasus kematian ternak babi akibat virus ASF di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) menurun, namun masyarakat mesti tetap menerapkan biosecurity.
Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ende, Marianus Alexander kepada awak media di Ende, Rabu (21/10/2020).
Marianus mengatakan, sejak bulan Juni hingga Juli 2020, total ternak babi yang mati akibat ASF mencapai kurang lebih 1.200 ekor.
"Lalu pada akhir di bulan september sampai Oktober tingkat kematian itu sudah 600 saja yang terdata artinya secara grafik dari waktu ke waktu mengalami penurunan," ungkap Marius.
Menurunnya angka kematian babi, kata Marianus, merupakan indikasi dari upaya untuk mengantisipasi serangan dari ASF yakni melalui biosecurity.
"Yaitu dengan mengisolasi ternaknya tidak keluar masuk sembarangan ke kandang ternak itu lalu kebersihan dari kandang itu dan pakan yang diberikan kepada ternak supaya imunnya tinggi sehingga dia tahan terhadap serangan virus," ungkap Marius.
Baca juga: Jawaban Soal TVRI SD Kelas 4-6 Kamis 22 Oktober 2020, Tugas Tentang Iklan Media Cetak dan Elektronik
Baca juga: Di Sumba Timur - Sudah Zona Hijau, Gugus Tugas Tetap Pantau Pelaku Perjalanan
Baca juga: Hanya Modal Nama dan Kode Verifikasi, CARA Cek Nama Penerima BLT UMKM Rp 2,4 Juta di e-Form BRI
Marianus mengatakan, di dua puluh kecamatan di Kabupaten Ende, Dinas Pertanian punya pusat kesehatan hewan, misalnya ada petugas kesehatan hewan yang bertugas untuk menjaga tingkat kesehatan ternak-ternak.(Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Oris Goti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/marianus-alexander-kadis-pertanian-dan-perikanan-kabupaten-ende.jpg)